Selasa, 11 Mei 2010

Peluang Investasi Produk Berbahan Baku Karet



PELUANG DAN PROMOSI INVESTASI BARANG-BARANG KARET

A. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan penghasil karet alam terbesar kedua didunia dengan potensi luas lahan sebesar 3,3 juta Ha serta produksi sebesar 2,3 juta ton per tahun. Sebesar 90,5% dari total produksi tersebut diekspor sehingga hanya 9,5% yang diolah di dalam negeri atau sebesar 221 ribu ton. Thailand dan Malaysia telah mampu mengolah masing-masing sampai 16% dan 47% dari total produksi karet alam.

Hal tersebut menunjukkan bahwa masih sedikit nilai tambah yang didapatkan dari barang-barang karet. Padahal, barang-barang karet (rubber goods) memiliki potensi pasar yang besar. Sedangkan, barang-barang karet yang dihasilkan dan diekspor oleh Indonesia masih terbatas, lebih banyak diekspor dalam bentuk karet mentah. Nilai ekspor barang-barang karet Indonesia pada tahun 2005 sebesar 963 juta US$ sedangkan nilai ekspor karet mentah Indonesia mencapai 2,5 milyar US$.

Besarnya potensi bahan baku dan tersedianya pasar yang luas menyebabkan terbukanya peluang peningkatan nilai tambah dari karet alam. Peluang tersebut harus dioptimalkan dengan mendorong tumbuhnya industri hilir karet. Peningkatan industri hilir karet selain meningkatkan nilai tambah, juga dapat meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri, mengurangi impor barang karet, meningkatkan lapangan kerja dan penghematan devisa negara.

B. POTENSI BAHAN BAKU
Potensi Bahan Baku Indonesia

Luas areal perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2005 sebesar 3,3 juta Ha dengan total produksi sebesar 2,3 juta ton. Luas areal dan produksi karet Indonesia cenderung meningkat setiap tahun. Pada saat ini seluruh jumlah sarana pengolahan karet mencapai 219 unit mencakup seluruh bahan mentah karet. Pengolahan karet berbasis lateks mencapai 23 unit dengan kapasitas sebesar 144.520 ton/tahun. Pengolahan crumb rubber swasta di luar PTPN sebanyak 75 unit dengan kapasitas 1.957.400 ton/tahun.

Tabel 1. Luas Areal Perkebunan Karet di Indonesia, Tahun 1905-2005
Tahun Luas (Ha) Produksi (ton)
PR PBN PBS Jumlah PR PBN PBS Jumlah
1905 - - 1.000 1.000 - - 1.000 1.000
1915 24.000 - 240.000 264.000 - - 15.800 15.800
1925 466.000 - 416.000 882.000 85.200 - 106.500 191.700
1940 731.000 - 626.000 1.357.000 266.300 - 282.700 549.000
1967 1.616.985 222.789 291.930 2.131.704 500.272 112.851 96.128 709.251
1970 1.813.123 223.574 280.590 2.317.287 571.014 118.171 112.961 802.146
1975 1.864.216 201.787 254.740 2.320.743 542.727 137.292 109.828 789.847
1980 1.947.091 190.339 246.375 2.383.805 714.468 185.815 119.717 1.020.000
1985 2.284.077 260.518 230.669 2.775.264 719.832 211.489 123.645 1.054.966
1990 2.639.435 267.205 234.969 3.141.609 913.425 216.702 145.168 1.275.295
1995 2.952.684 248.393 294.824 3.495.901 1.191.143 199.943 182.217 1.573.303
2000 2.882.795 212.617 277.009 3.372.421 1.125.161 169.866 206.401 1.501.428
2001 2.838.421 221.876 284.470 3.344.767 1.209.284 182.578 215.599 1.607.461
2002 2.825.476 221.228 271.655 3.318.359 1.226.647 186.535 217.177 1.630.359
2003 2.772.490 241.625 275.997 3.290.112 1.396.244 191.699 204.405 1.792.348
2004 2.747.899 239.118 275.250 3.262.267 1.662.016 196.088 207.713 2.065.817
2005 2.767.021 237.612 274.758 3.279.391 1.838.670 209.837 222.384 2.270.891
PR=Perkebunan Rakyat, PBN=Perkebunan Besar Negara, PBS=Perkebunan Besar Swasta
Sumber: Von saher dan Verhaar (1979); Barlow dan Drabble (1988); Ditjenbun (2006)

Tahun 2005, total ekspor karet mentah Indonesia mencapai lebih dari 2 juta ton atau senilai USD 2,58 milyar. Sebagian besar ekspor tersebut (82,7%) merupakan jenis Standard Indonesian Rubber (SIR). Sejak tahun 2000, ekspor karet mentah Indonesia rata-rata naik sebesar 8,02 % per tahun.

Tabel 2. Ekspor Karet Mentah Indonesia, Tahun 2000-2006*
Tahun Jumlah (kg) Nilai ($)
2000 1.379.987.556 889.302.047
2001 1.453.694.046 786.614.651
2002 1.496.380.711 1.038.387.242
2003 1.661.971.736 1.494.628.477
2004 1.875.059.215 2.181.251.502
2005 2.024.608.455 2.583.963.397
2006* 1.141.086.169 2.035.470.652
Sumber: BPS (2006), *Semester pertama

Kondisi impor karet mentah Indonesia berbanding terbalik dengan kondisi impor. Tahun 2005, total impor karet mentah Indonesia sebesar 6,7 ribu ton atau senilai USD 6,4 juta. Sebagian besar impor tersebut (70,4%) berupa impor lateks pekat. Sejak tahun 2000, impor karet mentah Indonesia cenderung menurun. Nilai total impor karet tahun 2005 hanya sebesar 0,24% dari nilai total espor karet pada tahun yang sama.
Tabel 3. Impor Karet Mentah Indonesia, Tahun 2000-2006*
Tahun Jumlah (kg) Nilai ($)
2000 43.968.455 25.283.326
2001 9.692.016 6.740.628
2002 16.110.351 10.987.529
2003 14.085.546 11.262.451
2004 7.502.410 6.741.870
2005 6.786.393 6.400.919
2006* 3.053.125 6.730.217
Sumber: BPS (2006), *Semester pertama

Produksi Karet Alam dan Sintetik Dunia
Produksi karet alam dunia pada tahun 2005 tercatat sebanyak 8,7 juta ton. Sedangkan, konsumsi karet alam dunia pada tahun 2005 tercatat sebanyak 8,7 juta ton. Selama sepuluh tahun terakhir (1996-2005) pertumbuhan produksi karet alam dunia sebesar 3,5 % per tahun.

Tabel 4. Produksi Karet Alam Dunia
Negara Produksi (ton x 1000)
1995 2000 2004 2005
Thailand 1.805 2.346 2.959 2.937
Indonesia 1.455 1.501 2.066 2.271
Malaysia 1.089 799 1.175 1.126
India 500 629 822 7.715
RRC 424 445 501 428
Vietnam 159 293 488 509
Lainnya 608 727 872 639
Total 6.040 6.740 8.883 8.682
Sumber: IRSG (2006)

Sebagai negara produsen karet alam, Indonesia menduduki urutan kedua setelah Thailand. Dalam sepuluh tahun terakhir, Thailand, Indonesia, India dan Vietnam mengalami pertumbuhan produksi yang relatif tinggi. Sementara itu, Malaysia mengalami stagnasi produksi. Dalam sepuluh tahun terakhir, konsumsi karet alam dunia mengalami peningkatan yang relatif konsisten dengan rata-rata peningkatan sebesar 4,3 persen per tahun.

Produksi karet sintetik dunia sebesar 11,9 juta ton dan konsumsinya sebesar 11,9 juta ton. Produksi karet sintetik dunia pada tahun 2005 lebih tinggi 37,8 persen dibandingkan produksi karet alam dunia. Konsumsi karet sintetik dunia lebih tinggi 36,3 persen dibandingkan konsumsi karet alam dunia.


Tabel 5. Konsumsi Karet Alam Dunia
Negara Konsumsi (ton x 1000)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
RRC 1.080 1.215 1.310 1.525 1.865 2.045
Amerika 1.194 974 1.110 1.079 1.144 1.159
Jepang 751 729 749 784 815 857
India 637 630 880 717 745 789
Malaysia 363 400 407 420 403 386
Korea 332 331 325 332 352 369
Thailand 242 253 279 299 319 334
Brazil 220 215 233 256 285 230
Perancis 270 282 230 300 230 230
Jerman 250 248 247 260 242 263
Indonesia 139 142 145 156 196 221
Lainnya 2.047 1.965 2.029 1.876 1.984 1,859
Jumlah 7525 7384 7944 8003 8579,1 8.742
Sumber: IRSG (2006)

Tabel III.11. Produksi dan Konsumsi Karet Alam dan Sintetik Dunia
Tahun Produksi (ton x 1000) Konsumsi (ton x 1000)
Karet Alam Karet Sintetik Total Karet Alam Karet Sintetik Total

1996 6.440 9.760 16.200 6.110 9.590 15.700
1997 6.470 10.080 16.550 6.470 10.010 16.480
1998 6.850 9.880 16.730 6.570 9.870 16.440
1999 6.872 10.336 17.208 6.646 10.196 16.842
2000 6.739 10.819 17.558 7.315 10.764 18.079
2001 7.261 10.485 17.746 7.223 10.253 17.476
2002 7.345 10.882 18.227 7.546 10.723 18.269
2003 7.992 11.448 19.440 7.967 11.381 19.348
2004 8.645 11.978 20.623 8.319 11.860 20.179
2005 8.682 11.965 20.647 8.742 11.917 20.659
Sumber : IRSG (2006)


C. PROFIL UMUM INDUSTRI BARANG BARANG KARET
Profil Industri
Jumlah perusahaan barang karet sebanyak 218 perusahaan kecil sampai besar dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 62.954 orang. Industri ban mobil dan ban motor sebanyak 19 perusahaan. Perusahaan ban sepeda sebanyak 7 perusahaan. Industri barang jadi lateks berjumlah 51 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 15.236 orang. Industri barang jadi karet untuk keperluan industri berjumlah 56 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 9.224 orang. Industri barang karet umum terdiri dari 85 perusahaan dengan tenaga kerja sebanyak 9.204 orang.
Produk-produk yang dihasilkan dari industri barang barang karet meliputi ban mobil, ban motor, ban sepeda, sarung tangan, benang dan tali karet, busa, kondom, pipa dan selang karet, conveyor belt, belt transmisi dan roll karet, gasket, ring dan segel, dock fender, karet otomotif, alat olahraga, sepatu, sendal dan bahan sendal, karet kompon, balon, dot, karet gelang, karpet, ban vulkanisir dan lainnya.

Ekspor Impor
Pada tahun 2005 Jumlah ekspor barang karet mencapai 394.274 ton dengan nilai sebesar 963 juta US$. Ekspor dan impor barang-barang karet secara umum meningkat. Pada tahun 2005 impor barang-barang karet mencapai 90.688 ton dengan nilai sebesar 339 juta US$.

Tabel 7. Ekspor Impor Barang Barang Karet
Tahun Ekspor Impor
Jumlah (kg) Nilai (US$) Jumlah (kg) Nilai (US$)
2000 237.797.972 436.089.221 86.125.690 207.145.158
2001 222.114.651 424.717.828 82.703.306 205.548.388
2002 265.307.694 523.590.241 62.711.004 200.723.048
2003 292.029.025 604.188.295 57.909.770 174.575.606
2004 381.912.096 782.864.609 78.791.415 246.240.676
2005 394.274.442 963.961.318 90.688.585 339.538.135
2006* 216.828.325 580.575.512 56.821.211 208.201.921
Sumber: BPS (2006, diolah), *Semester pertama

Jumlah dan nilai ekspor barang- barang karet lebih besar dibandingkan jumlah dan nilai impor barang-barang karet. Pada Tahun 2005, jumlah impor barang-barang karet hanya sebesar 23% dibandingkan jumlah ekspor. Sedangkan nilai impornya sebesar 35% persen dibandingkan nilai ekspor.

Produk Barang Karet Prospektif
Neraca ekspor impor digunakan untuk menganalisis produk-produk yang prospektif untuk dikembangkan. Produk-produk yang neraca ekspor impornya negatif berpeluang untuk dikembangkan dalam rangka subtitusi impor. Sedangkan, produk-produk yang neraca ekspor impornya positif berpeluang dikembangkan dalam rangka peningkatan nilai ekspor.
Berdasarkan analisis kinerja ekspor impor terdapat sepuluh produk yang mempunyai kinerja ekspor impor yang signifikan. Sepuluh produk tersebut yaitu ban, benang dan tali karet, pipa dan selang, conveyor belt, kondom, sarung tangan, penutup lantai dan mat, penghapus, gasket, ring dan segel dan dock fender. Dari sepuluh produk tersebut, ban tidak dimasukkan dalam analisis produk yang akan dikembangkan. Hal tersebut karena struktur industri ban dan produk terkait sudah sangat mapan dengan pemain perusahaan nasional maupun multinasional. Industri ini menguasai lebih dari 70% bahan baku karet alam. Selain ban, terdapat tiga produk yang lebih berpotensi untuk dikembangkan yaitu pipa dan selang, sarung tangan dan conveyor belt.
Kemudian produk pipa dan selang, sarung tangan dan conveyor belt dianalisis kembali untuk memilih mana yang lebih prospektif. Analisis ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Nilai tertinggi dari alternatif produk adalah sarung tangan karet, sehingga sarung tangan karet dipilih sebagai produk barang karet yang prospektif untuk dikembangkan.

Tabel 8. Neraca Ekspor Impor Barang Karet
No Barang Karet Neraca Ekspor Impor Nilai (ribu US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
1 Benang dan tali karet 14.288 8.789 9.999 8.737 14.533 13.427
2 Pipa dan selang -29.528 -26.670 -26.172 -31.479 -44.565 -71.330
3 Conveyor belt -2.043 -6.535 2.227 12.077 10.713 6.519
4 Ban 201.090 192.718 263.985 324.226 447.125 496.115
5 Kondom -699 -1.299 -1.846 -1.419 -1.611 -2.507
6 Sarung tangan 64.702 73.851 70.652 72.616 93.637 134.374
7 Penutup lantai dan mat 6.631 6.433 6.173 6.537 6.054 3.809
8 Penghapus -1.531 -1.153 -669 -968 -1.435 -2.046
9 Gasket, ring dan segel -6.640 -12.950 982 9.014 -1.562 3.249
10 Dock fender -2.627 -268 -1.859 -903 -552 -478
Sumber: Data Olahan

Investasi
Sejak tahun 2001 sampai tahun 2006 hanya terdapat enam perusahaan yang termasuk kategori Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang dikeluarkan izin usaha tetapnya oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sedangkan, kategori Penanaman Modal Asing (PMA) terdapat sembilan perusahaan yang diberi izin usaha tetap.
Jenis produk yang paling banyak realisasi izin usahanya adalah sarung tangan yaitu sebanyak lima perusahaan (4 PMDN dan 1 PMA). Besar investasi untuk industri sarung tangan rata-rata sebesar 100 juta rupiah untuk setiap 1 juta pasang sarung tangan karet. Investasi termurah adalah PT Latexindo Toba Perkasa dengan nilai investasi sebesar 40 juta rupiah untuk setiap juta pasang sarung tangan karet. Sedangkan, investasi termahal adalah PT Mandiri Inti Buana dengan nilai investasi sebesar 172 juta rupiah untuk setiap juta pasang sarung tangan karet.

Tabel 9. Daftar Realisasi Izin Usaha Tetap PMDN 2001-2006
No Nama Perusahaan Tahun Investasi Produk Kapasitas Nilai Inves- tasi (Rp)
1 Eka Wira Asia, PT 2001 Sarung tangan karet 216 juta pcs 22 milyar
2 Fasilamindo Utama, PT 2002 Karet busa 2,4 juta meter 2 milyar
3 Maja Agung Latexindo, PT 2005 Sarung tangan karet 205,8 juta pcs 26 milyar
4 Mandiri Inti Buana, PT 2005 Sarung tangan karet 822 juta pcs 142 milyar
5 Latexindo Toba Perkasa, PT 2005 Sarung tangan karet 90 juta pcs 3,6 milyar
6 Pumas Rotua Gemilang, PT 2006 Tali sandal, sol sepatu, kapet mobil 2 ribu ton 5 milyar
Sumber: BKPM (2006, diolah)
Tabel 10. Daftar Realisasi Izin Usaha Tetap PMA 2001-2006
No Nama Perusahaan Tahun Investasi Produk Kapasitas Nilai Inves- tasi (US$)
1 Voith Sulzer Papepr Technology Services, PT 2001 Roll cover, paper roll 260 ton 11 ribu
2 Indonesia TRC Industry, PT 2002 Rubber roller 1212 ton 5,6 juta
Porduk lain 57 juta buah
3 Toyo Seal Indonesia, PT 2003 Rubber metal 360 juta buah 15 juta
Mould 500 buah
Produk lain 255 juta buah
4 Kyungshin Indonesia, PT 2003 Rubber component 18 juta buah 900 ribu
5 Polymatech Indonesia, PT 2004 Elastomer switches 140 juta buah 6,4 juta
6 Mitsuboshi Belting Indonesia, PT 2004 Rubber belt 36 juta buah 2,8 juta
7 Indah Glorymas Indonesia, PT 2004 Elastic strappers 97 juta buah 500 ribu
8 Bando Indonesia, PT 2005 Automotiv belt 8 juta buah 7,5 juta
Konveyor belt 4,3 juta ton
9 Universal Gloves, PT 2006 Sarung tangan karet 250 juta pcs 1,3 juta
Sumber: BKPM (2006, diolah)

Selama tahun 2001 sampai tahun 2006, terdapat dua PMA yang berinvestasi dalam produk rubber belt. Dua perusahaan itu yaitu PT. Mitsuboshi Belting Indonesia dan PT. Bando Indonesia. PT. Mitsuboshi Belting Indonesia memproduksi transmision belt sedangkan PT. Bando Indonesia memproduksi automotiv belt dan konveyor belt.
Nilai investasi untuk meproduksi transmision belt dengan kapasitas 36 juta buah adalah sebesar 2,8 juta US$ atau senilai 26 milyar rupiah. Sedangkan, nilai investasi untuk memproduksi automotive belt dengan kapasitas 8 juta buah dan konveyor belt dengan kapasitas 4,3 juta ton adalah sebesar 7,5 juta US$ atau senilai 70 milyar rupiah.

Selama lima tahun terakhir, tidak ada satupun perusahaan yang berinvestasi pada produk selang karet untuk pertambangan. Selain itu, belum ada perusahaan yang berinvestasi khusus memproduksi dock fender, kondom, penghapus dan benang dan tali karet. Beberapa perusahaan barang-barang karet lain, lima tahun terakhir, berinvestasi pada produk karet busa, tali sandal , sol sepatu dan karpet mobil, rubber roll, mould dan elastomer switches.

D. PROFIL INVESTASI INDUSTRI BAN
Profil Industri
Industri ban mobil dan ban motor di Indonesia berjumlah 19 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 25.700 orang. Saat ini hanya 11 industri yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI).
Produksi, Konsumsi dan Ekspor Impor
Berdasarkan data APBI, penjualan ban mobil pada tahun 2005 berkembang cukup tinggi di pasar umum sebesar 7,7% dan di pasar perakitan sebesar 20,6%. Sementara, penjualan ban motor meningkat di pasar umum sebesar 5,4% dan di pasar perakitan meningkat 35%.

Tabel 11. Daftar Perusahaan Ban di Indonesia*
No Nama Perusahaan Merek Ban Lokasi Pabrik
1 Goodyear Indonesia, PT Goodyear Bogor
2 Bridgestone Tire Indonesia, PT Bridgestone Bekasi/Karawang
3 Gajah Tunggal Tbk, PT Gajah Tunggal Tangerang
4 Industri Karet Deli, PT Swallow Medan
5 Ariga Mira Rubber Works, PT Aaron Tangerang
6 Sumi Rubber Indonesia, PT Dunlop Cikampek
7 Suryaraya Rubberindo Industries, PT Federal Bogor
8 Elang Perdana Tyre Industy, PT EPCO Bogor
9 Banteng Pratama, PT Mizzle Bogor
10 Hung-A Indonesia, PT Thunderbird Cikarang
11 United King-Land, PT Kingland Tangerang
Sumber: APBI (2006), *Anggota APBI

Tabel 12. Produksi dan Penjualan Ban Mobil
No Uraian 2004 (x 1000 unit) 2005 (x 1000 unit) Persentase Perkembangan (%)
1 Produksi 35.371 41.310 16,79
2 Penjualan Total 35.549 40.727 14,57
a. Umum 9.327 10.041 7,66
b. Perakitan 2.349 2.833 20,60
c. Eskpor 23.873 27.853 16,67
Sumber: APBI, 2006

Tabel 13. Produksi dan Penjualan Ban Motor
No Uraian 2004 (x 1000 unit) 2005 (x 1000 unit) Persentase Perkembangan (%)
1 Produksi 18.610 22.035 18,40
2 Penjualan Total 18.663 21.698 16,26
a. Umum 10.774 11.354 5,38
b. Perakitan 7.392 9.976 34,96
c. Eskpor 497 368 -25,96
Sumber: APBI, 2006

Penjualan ban motor dan ban mobil dalam negeri pada tahun 2005 senilai 5.8 trilyun rupiah. Nilai tersebut meningkat sebesar 22,5% dibanding tahun 2004 yaitu senilai 4,7 trilyun rupiah. Begitu pula, penjualan ban motor dan ban mobil jika dilihat dari jumlah unit dan beratnya meningkat cukup tinggi. Tahun 2005 penjualan sebanyak 34.204 ribu unit atau sebesar 271.997 ton. Penjualan tersebut meningkat sebesar 14,62% dari penjualan tahun 2004 sebanyak 29.842 ribu unit atau meningkat sebesar 11,64% dari penjualan tahun 2004 sebesar 243.646 ton.

Jumlah dan nilai ekspor ban dan produk terkait cenderung meningkat setiap tahun. Jumlah ekspor pada tahun 2005 sebesar 279.823 ton meningkat 71,78% dibanding tahun 2000 sebesar 162.893 ton. Jumlah ekspor tersebut meningkat rata-rata sebesar 12,34% per tahun. Nilai ekspor pada tahun 2005 sebesar 627 juta US$ meningkat 123,15% dibanding tahun 2000 sebesar 281 juta US$. Nilai ekspor tersebut meningkat rata-rata sebesar 18,19% per tahun.

Tabel 14. Ekspor-Impor Industri Ban dan Produk Terkait, Tahun 2000-2006
Tahun Ekspor Impor
Jumlah (kg) Nilai (US$) Jumlah (kg) Nilai (US$)
2000 162.892.748 280.977.589 57.125.155 84.146.897
2001 146.338.505 263.781.886 47.538.403 72.548.876
2002 187.324.412 336.051.310 32.625.801 71.856.789
2003 214.942.343 404.269.646 34.127.249 79.347.048
2004 268.041.329 529.259.340 36.536.196 77.631.080
2005 279.822.927 626.995.728 51.309.300 131.555.909
2006* 160.795.510 388.344.324 28.187.727 104.937.379
Sumber: BPS (2006, diolah), *semester pertama

Jumlah dan nilai impor ban dan produk terkait cenderung stagnan dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Jumlah dan nilai impor pada tahun 2005 berturut-turut sebesar 51.309 ton dan 131 juta US$. Ban merupakan produk barang karet yang mempunyai kinerja ekspor impor paling bagus. Kinerja ekspor impor ban selalu positif dan cenderung meningkat setiap tahun. Nilai ekspor ban Indonesia mencapai lebih dari 625 juta US$ pada tahun 2005. Sedangkan, nilai impornya sebesar 50 juta US$ pada tahun 2005. Negara tujuan ekspor terbesar ban meliputi Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia. Sedangkan, Indonesia mengimpor ban dari Jepang, Singapura, Korea, Thailand dan Malaysia.

E. PROFIL INVESTASI INDUSTRI BARANG-BARANG KARET SELAIN BAN
Umum
Industri selain ban di Indonesia berjumlah 148 buah. Industri tersebut tersebar di 33 kabupaten dan 10 Propinsi. Kota atau kabupaten yang paling banyak memiliki perusahaan barang karet berturut-turut Tangerang (22), Bandung (16), Deli Serdang (15), Bogor (13), Surabaya (10) dan Bekasi (8).
Jumlah dan nilai ekspor-impor barang-barang karet selain ban cenderung berimbang. Pada tahun 2005 jumlah dan nilai ekspor sebesar 114.452 ton dan 337 juta US$. Jumlah dan nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan jumlah dan nilai impor barang karet pada tahun 2005 sebesar 93.201 ton dan 354 juta US$.

Tabel 15. Jumlah Industri Barang Karet Berdasarkan Propinsi, Tahun 2005
No Propinsi Jumlah Perusahaan
1 Jawa Barat 47
2 Jawa Timur 31
3 Banten 25
4 Sumatera Utara 19
5 DKI Jakarta 11
6 Jawa Tengah 5
7 Kepulauan Riau 2
8 Jambi 1
9 Sulawesi Utara 1
10 Sumatera Selatan 1
Sumber: BPS (2006, diolah)


Tabel 16. Ekspor dan Impor Industri Barang Karet Selain Ban, Tahun 2000-2005
Tahun Ekspor Impor
Jumlah (kg) Nilai (US$) Jumlah (kg) Nilai (US$)
2000 74.905.224 155.111.632 86.748.355 207.707.503
2001 75.776.146 160.935.942 83.128.978 206.041.590
2002 77.983.282 187.538.931 63.770.191 201.662.851
2003 77.086.682 199.918.649 59.691.788 175.656.411
2004 113.870.767 253.605.269 79.566.841 247.244.463
2005 114.451.515 336.965.590 93.201.211 353.854.758
Sumber: BPS (2006, diolah)

Sarung Tangan Karet
Industri sarung tangan karet di Indonesia pada tahun 2005 tercatat 29 perusahaan. Namun, saat ini karena keterbatasan pasokan bahan baku lateks pekat dan pasokan gas maka hanya sekitar 12 perusahaan yang beroperasi. Perusahaan sarung tangan karet terkonsentrasi pada empat propinsi yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Timur dan Jawa Barat. Propinsi Sumatera Utara merupakan daerah yang paling banyak perusahaan sarung tangan karetnya

Sarung tangan karet merupakan barang karet yang memiliki kinerja ekspor impor terbesar setelah ban. Ekspor sarung tangan cenderung meningkat setiap tahunnya. Sedangkan, impor sarung tangan karet walaupun cenderung meningkat namun jumlahnya sangat kecil dibandingkan jumlah ekspor. Sehingga, kinerja ekspor impor sarung tangan karet positif selama enam tahun terakhir dan cenderung meningkat.
Nilai ekspor sarung tangan Indonesia hanya sebesar 138 juta US$. Nilai tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan penjualan sarung tangan karet dunia yang sekitar 3 milyar US$ per tahun. Oleh karena itu masih terdapat peluang peningkatan ekspor sarung tangan Indoensia. Negara tujuan ekspor terbesar sarung tangan karet meliputi Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, Italia, Inggris, Spanyol dan Jerman.

Tabel 17. Jumlah Ekspor dan Impor Sarung Tangan Karet
Nama Jumlah (Kg)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 31.574.333 39.438.011 37.364.322 36.044.530 41.526.602 53.850.186
Impor 474.253 676.469 866.194 719.172 670.921 1.094.954
Sumber: BPS (2006, diolah)

Tabel 18. Nilai Ekspor dan Impor Sarung Tangan Karet
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 66.397.720 75.297.789 72.868.069 74.957.963 95.736.395 138.125.260
Impor 1.696.122 1.446.798 2.216.021 2.342.000 2.099.566 3.751.301
Kinerja ekspor impor 64.701.598 73.850.991 70.652.048 72.615.963 93.636.829 134.373.959
Sumber: BPS (2006, diolah)

Rubber Belt
Belt karet terdiri dari konveyor belt, transmision belt dan v belt. Beberapa perusahaan memproduksi konveyor belt sebagai salah satu line produksinya. Beberapa perusahaan yang memproduksi konveyor belt yaitu PT. Supra Bakti Mandiri dan PT Kaka Rubberindo. Perusahaan yang memproduksi trasmision belt antara lain PT. Bando Indonesia, PT. Mitsuboshi Belting Indonesia, PT. Supreme Belting Perkasa, PT. Adiliman Makmur.

Ekspor rubber belt stabil sejak tahun 2000 sampai tahun 2005. Jumlah impor rubber belt berfluktuasi setiap tahunnya namun tiga tahun terakhir cenderung naik. Nilai impor rubber belt cukup besar yaitu sebesar 33 juta US$ pada tahun 2005. Oleh karena itu terdapat peluang pengembangan industri rubber belt untuk subtitusi impor.

Tabel 19. Jumlah Ekspor dan Impor Rubber Belt
Nama Jumlah Ekspordan Impor (Kg)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 5.250.377 5.754.864 5.350.426 5.996.993 5.614.448 5.400.793
Impor 6.856.797 10.124.338 8.358.348 5.542.228 6.487.115 7.761.150
Sumber: BPS (2006, diolah)

Tabel 20. Nilai Ekspor dan Impor Rubber Belt

Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 24.891.566 25.863.145 32.295.906 34.197.537 37.130.584 39.974.249
Impor 26.934.126 32.398.182 30.069.163 22.120.039 26.417.172 33.455.056
Kinerja ekspor impor -2.042.560 -6.535.037 2.226.743 12.077.498 10.713.412 6.519.193
Sumber: BPS (2006, diolah)

Pipa dan Selang

Pipa dan selang karet digunakan oleh industri pertambangan, industri otomotif, industri manufaktur dan untuk rumah tangga. Pipa dan selang biasanya hanya merupakan salah satu line produksi dari perusahaan penghasil barang karet. Beberapa perusahaan yang mengkhususkan diri memproduksi rubber hose yaitu PT. Sinar Andir Rubber, PT. Indometama Megah Indah, PT. Kaka Rubberindo dan PT. Limus Nunggal Rubber.
Ekspor dan impor pipa dan selang berfluktuatif. Impornya lebih tinggi dibanding dengan ekspor. Pada tahun 2005, nilai impor dan ekspor pipa dan selang selang berturut turut sebesar 76 juta US$ dan 4,7 juta US$. Nilai impor pipa dan selang jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor. Oleh karena itu terdapat peluang pengembangan industri pipa dan selang dalam rangka subtitusi impor.

Tabel 21. Jumlah Ekspor dan Impor Pipa dan Selang
Nama Jumlah Ekspordan Impor (Kg)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 2.304.869 2.487.209 2.086.241 1.346.892 1.757.657 2.512.881
Impor 5.794.658 6.991.134 5.676.805 6.678.481 8.884.528 8.794.639
Sumber: BPS (2006, diolah)

Tabel 22. Nilai Ekspor dan Impor Pipa dan Selang
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 2.889.118 3.337.901 6.431.088 2.277.585 2.995.343 4.732.928
Impor 32.417.531 30.008.319 32.603.523 33.756.795 47.560.770 76.062.595
Kinerja ekspor impor -29.528.413 -26.670.418 -26.172.435 -31.479.210 -44.565.427 -71.329.667
Sumber: BPS (2006, diolah)

Barang Karet Lainnya

Industri barang karet lain yang dapat dikembangkan meliputi benang dan tali karet, penutup lantai dan mat, kondom, dock fender, penghapus, gasket, ring dan segel. Ke enam industri tersebut dapat dikembangkan dalam rangka peningkatan ekspor dan subtitusi impor.

- Benang dan tali karet
Nilai ekspor benang dan tali karet pada tahun 2005 sebesar 13,9 juta US$. Sedangkan kebutuhan dunia terhadap benang dan tali karet terus meningkat. Indonesia masih dapat meningkatkan ekspornya ke negara seperti Hongkong, Korea Selatan, Thailand, Turki dan Amerika Serikat.

Tabel Tabel 23. Nilai Ekspor dan Impor Benang dan Tali Karet
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 14.850.412 9.282.318 10.939.247 9.817.708 15.537.151 13.970.836
Impor 562.345 493.202 939.803 1.080.805 1.003.787 543.656
Kinerja ekspor impor 14.288.067 8.789.116 9.999.444 8.736.903 14.533.364 13.427.180
Sumber: BPS (2006, diolah)

- Penutup lantai dan mat
Jumlah perusahaan yang mengkhususkan diri membuat penutup lantai dari karet sebanyak empat perusahaan. Perusahaan tersebut adalah PT. Marga Jaya, PT. Fronte Classic Indonesia, PT. Gemilang Unggul dan PT. Gilang Usaha Cakrawala Industri.
Nilai ekspor penutup lantai dan mat pada tahun 2005 sebesar 5,8 juta US$. Nilai ekspor tersebut masih dapat ditingkatkan kembali terutama untuk negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Korea Selatan, Italia, Belgia dan Inggris.

Tabel 24. Nilai Ekspor dan Impor Penutup Lantai dan Mat
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 6.966.635 6.735.355 6.404.147 7.342.466 6.821.336 5.244.628
Impor 335.637 302.383 230.748 804.994 767.006 1.435.501
Kinerja ekspor impor 6.630.998 6.432.972 6.173.399 6.537.472 6.054.330 3.809.127
Sumber: BPS (2006, diolah)

- Kondom
Perusahaan produsen kondom di Indonesia tercatat dua perusahaan yaitu PT. Mitra Rajawali Banjaran dan PT. Vonix Latexindo. Sebagian kebutuhan kondom Indonesia ditutupi oleh impor dari Thailand, Malaysia dan China. Nilai impor kondom tahun 2005 sebesar 2,8 juta US$. Nilai impor tersebut menunjukkan peluang meningkatkan produksi atau mendirikan industri kondom untuk subtitusi impor.

Tabel 25. Nilai Ekspor dan Impor Kondom
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 665.081 685.257 542.452 710.808 410.369 366.034
Impor 1.364.092 1.984.143 2.388.529 2.129.393 2.021.708 2.873.150
Kinerja ekspor impor -699.011 -1.298.886 -1.846.077 -1.418.585 -1.611.339 -2.507.116
Sumber: BPS (2006, diolah)

- Dock Fender

Tidak ada perusahaan di Indonesia yang mengkhususkan diri hanya membuat dock fender. Biasanya dock fender dibuat berdasarkan pesanan sehingga hanya menjadi salah satu produk dari perusahaan barang karet. Beberapa perusahaan yang memproduksi dock fender seperti PT. Perkebunan Nusantara III dan PT. Agronesia Unit Inkaba.
Nilai impor lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor dock fender. Pada tahun 2005, Indonesia mengimpor dock fender dari Jepang, China, Singapura, Amerika Serikat dan Malaysia dengan nilai impor sebesar 1,3 US$. Nilai impor tersebut menunjukkan peluang meningkatkan produksi atau mendirikan industri dock fender untuk subtitusi impor.

Tabel 26. Nilai Ekspor dan Impor Dock Fender
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 10.715 69.196 46.818 427.978 173.034 78.800
Impor 1.477.265 1.123.799 999.295 879.853 1.543.678 1.385.562
Kinerja ekspor impor -1.466.550 -1.054.603 -952.477 -451.875 -1.370.644 -1.306.762
Sumber: BPS (2006, diolah)

- Penghapus

Ekspor penghapus nilainya kecil dan terus menurun. Sedangkan, impor penghapus cenderung meningkat setiap tahun dan nilainya lebih besar dibandingkan nilai ekspor. Pada tahun 2005, Indonesia mengimpor penghapus dari Jerman, Cina dan Malaysia dengan nilai impor sebesar 2 juta US$. Nilai impor tersebut menunjukkan peluang meningkatkan produksi atau mendirikan industri penghapus untuk subtitusi impor.

Tabel 27. Nilai Ekspor dan Impor Penghapus
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 17.794 62.904 74.573 152.988 33.647 7.247
Impor 1.549.193 1.215.582 743.838 1.121.141 1.468.264 2.053.582
Kinerja ekspor impor -1.531.399 -1.152.678 -669.265 -968.153 -1.434.617 -2.046.335
Sumber: BPS(2006, diolah)

- Gasket, ring dan segel

Gasket, ring dan segel umumnya hanya menjadi line produksi dari perusahaan barang karet. Namun ada beberapa perusahaan yang memproduksi gasket, ring dan segel sebagai produk utamanya seperti PT. Arezda Purnamaloka dan PT. Selamat Semapana Perkasa.

Ekspor dan impor gasket, ring dan segel berfluktuatif setiap tahun. Indonesia mengimpor penghapus dari Jerman, Cina dan Malaysia dengan nilai impor sebesar 1,2 juta US$. Nilai impor tersebut menunjukkan peluang meningkatkan produksi atau mendirikan industri penghapus untuk subtitusi impor.

Tabel 28. Nilai Ekspor dan Impor Gasket, Ring dan Segel
Nama Nilai (US$)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Ekspor 29.603 31.949 126.271 40.307 7.244 802.304
Impor 2.656.520 299.842 1.984.782 943.443 559.563 1.280.595
Kinerja ekspor impor -2.626.917 -267.893 -1.858.511 -903.136 -552.319 -478.291
Sumber: BPS (2006, diolah)

F. KENDALA, DAYA SAING, STRATEGI DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN INDUSTRI BARANG KARET

Daya Saing dan Keunggulan
Daya saing dan keunggulan barang karet dianalisis dengan metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Analisis ini menunjukkan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan terhadap industri barang karet.

- Umum
Kekuatan Peluang
- Ketersediaan bahan baku - Pasar ekspor terbuka untuk ban
- Ketersediaan tenaga kerja dan barang lateks
- Penguasaan teknologi industri - Subtitusi impor barang karet
barang lateks - Peningkatan local content
- Pasar yang terbuka dari barang- industri otomotif & elektronik
barang lateks - Pertumbuhan ekonomi global
- Industri ban yang eksis
- Asosiasi industri ban dan sarung
tangan

Kelemahan Tantangan
- Ekonomi biaya tinggi dan iklim - Barang karet murah dari Cina
usaha yang kurang mendukung dan India
- Impor bahan pendukung - Perdagangan bebas tahun 2010
termasuk bahan kimia karet - Keengganan principal
- Rendahnya industri karet sintetik meningkatkan local content
- Rendahnya industri permesinan
barang-barang karet
- Kurangnya kemampuan promosi
- Impor minded dari pengguna
barang karet

- Ban
Kekuatan Peluang
- Distribusi efektif pada pasar - Investasi atau waralaba dari ban
dalam negeri maupun ekspor pesawat dan ban vulkanisir
- Merek dagang yang kuat pesawat
- Kinerja ekspor impor positif
- Standar ban Indonesia
- Pengenalan teknologi ban dari
Investor asing
- Bahan baku dan beberapa bahan
Pendukung diproduksi di dalam
negeri
- Transfer manajemen dari
investor asing
- Sistem manajemen kualitas

Kelemahan Tantangan
- Loyalitas terhadap merek ban - Kenaikan harga bahan baku dan
impor mobil mewah bahan pendukung
- Kelebihan suplay ban dalam - Harga bersaing dari ban produksi
negeri India dan Cina
- Tarif impor ban 15% - Akreditasi, test, inspeksi dan
- Kesenjangan teknologi ban radial sertifikasi untuk ban pesawat
dan vulkanisir ban pesawat - Kompetisi ketat terhadap tenaga
- Impor tinggi dari karet sintetis kerja asing
- Lama waktu menunggu dari
administrasi ekspor impor

- Barang Jadi Lateks
Kekuatan Peluang
- Teknologi yang menghasilkan - Kemudahan pemasaran dari
produk berkualitas pembeli dari luar negeri
- Ketersediaan bahan baku lateks - Kebutuhan dunia yang besar dan
- Tenaga kerja yang kompetitif pasar yang luas
- Asosiasi industri (sarung tangan - Kebutuhan benang karet di
karet) dalam negeri
- Tarif impor lateks yang
kompetitif

Kelemahan Tantangan
- Pasokan gas alam yang rendah - Harga produk yang kurang kompetitif
dan tidak kontinu - Biaya produksi relatif tinggi
- Kompetisi harga sarung tangan
yang ketat
- Ketidakkonsistenan kualitas
lateks
- Harga lateks Indonesia lebih
tinggi dari Malaysia
- Terbatasnya produk lateks pekat

- Barang Jadi Karet untuk Industri
Kekuatan Peluang
- Pasar dalam negeri terhadap - Pasar luar negeri yang bagus
barang karet untuk industri untuk produk seperti V belt,
- Pasar barang karet untuk gasket dan segel
otomotif dalam negeri - Karakteristik industri yang
- Besarnya pasar dock fender tersebar
dalam negeri - Kerjasama bisnis dengan investor
- Kebutuhan pipa, selang, rubber asing untuk transfer teknologi
belt dalam negeri - Pembangunan jaringan industri
- Mesin dan peralatan moderen barang karet kecil dan besar
dari perusahaan barang karet
otomotif besar
- Bahan baku dan beberapa bahan
Pendukung diproduksi di dalam
negeri
- Kemampuan molding dari
industri kecil-menengah

Kelemahan Tantangan
- Kesenjangan informasi pasar - Keengganan principal untuk
internasional meningkatkan local content dari
- Lemah dalam kompetisi harga produk yang
dan kualitas pada pasar - Kompetisi harga yang ketat
internasional - Harga yang tinggi dan prosedur
- Kurangnya relasi bisnis pada yang sulit dalam mengimpor
pasar internasional mesin bekas
- Pasokan rubber otomotif
berkualitas tinggi dari industri
otomotif luar negeri
- Konveyor belt campuran steel
masih diimpor
- Kesenjangan teknologi konveyor
belt
- Belum adanya test untuk barang
karet besar (dock fender,
bantalan tahan gempa)
- Kesenjangan teknologi kompon
bagi industri kecil
- Kekurang konsistenan pasokan
bahan baku dari dalam negeri
- Impor karet sintetis dan bahan
kimia karet masih besar
- Kesenjangan sarana
pengembangan produk bagi
industri kecil dan menengah
- Pengenaan pajak untuk
perlengkapan dan mesin R & D
- Tidak adanya jaringan industri
Kecil-besar

Usulan Strategi dan Kebijakan
Umum
- Melakukan kebijakan untuk memangkas ekonomi biaya tinggi
sekaligus membuat iklim usaha di Indonesia lebih kondusif.
- Efisiensi birokrasi formal perlu dilakukan dalam rangka menurunkan
efek ekonomi biaya tinggi
- Pemerintah perlu memberlakukan kebijakan non tarif barier dan
ecolabelling.
- Melakukan standardidasi barang karet
- Kerjasama dengan lembaga terkait untuk pengembangan produk
- Membangun industri mesin-mesin produksi barang karet beserta
industri bahan pendukung dan bahan kimia barang karet

Kegiatan Praktis
- Temu bisnis antar stake holder industri barang-barang karet
- Pameran teknologi pengolahan barang-barang karet
- Jaringan industri barang-barang karet
- Pembentukan Rubber Goods Information Centre

Industri Ban dan Produk Terkait
- Melakukan kebijakan yang dapat mengurangi laju percepatan
peningkatan biaya produksi
- Memperkuat industri hulu untuk produk ban
- Perlu dipertimbangkan untuk penghapusan pengenaan PPN untuk
pembelian karet alam
- Pencabutan penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk impor
karbon black

Industri Barang Jadi Lateks
- Membangun industri barang jadi lateks terintegrasi vertikal dengan
kebun yang menghasilkan lateks pekat
- Membenahi permasalahan terutama permasalahan kontinuitas suplai
bahan baku dan pasokan energi gas

Barang Jadi Karet Untuk Industri
- Pada tahap awal, mencoba strategi efisiensi biaya produksi untuk
meningkatkan pasar
- Tahap selanjutnya, dilakukan peningkatan kualitas produksi,
differensiasi produk berkualitas
- Peningkatan imej positif terhadap produk dalam negeri
- Kerjasama investasi dengan pihak asing

G. KESIMPULAN
Untuk meningkatkan nilai tambah industri karet alam Indonesia perlu dikembangkan industri barang-barang karet. Identifikasi barang-barang karet yang potensial dikembangkan dilakukan dengan melakukan penghitungan kinerja ekspor impor produk. Produk yang potensial dikembangkan berdasarkan kinerja ekspor impor meliputi produk sarung tangan karet, conveyor belt dan pipa dan selang.

Ban dan produk terkait merupakan produk yang kinerja ekspor impornya tertinggi dibandingkan barang-barang karet lainnya. Namun, struktur industri ban dan produk terkait sudah sangat mapan dengan pemain nasional maupun multinasional. Industri ini menguasai lebih dari 70% bahan baku karet alam. Sehingga, industri ban dan produk terkait tidak dimasukkan ke dalam kajian pemilihan pengembangan produk barang karet prospektif.

Produk lain yang perlu diperhatikan antara lain dock fender, benang dan tali karet, penutup lantai, gasket, ring dan segel, penghapus dan kondom. Pengembangan produk tersebut dalam rangka subtitusi impor atau peningkatan kinerja ekspor produk barang karet. Produk sarung tangan merupakan produk yang paling potensial dikembangkan berdasarkan analisis AHP. Pengembangan sarung tangan karet perlu dilakukan dengan memperhatikan penyelesaian kendala dan permasalahan yang ada.
Kendala dan masalah yang perlu diselesaikan adalah kontinuitas bahan baku lateks dan pasokan energi gas. Solusi jangka panjang yang dapat diambil antara lain membangun industri barang jadi lateks terintegrasi dengan kebun yang menghasilkan lateks pekat. Selain itu, kerjasama pemerintah dan BUMN bidang energi dapat dilakukan untuk mengamankan pasokan energi gas.

Kebijakan dan strategi perlu dilakukan dengan pengenalan terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Untuk mengembangkan industri barang karet secara umum perlu dilakukan beberapa kebijakan mendasar. Kebijakan mendasar yang perlu dilakukan adalah pemangkasan terhadap ekonomi biaya tinggi dan perbaikan iklim investasi. Beberapa kegiatan praktis seperti temu bisnis antar stake holder industri barang-barang karet dapat dilakukan. Kebijakan dan strategi khusus perlu juga dilakukan spesifik terhadap kelompok industri tertentu.

Departemen Perindustrian

1 komentar:

  1. Sukses Pak untuk kajiannya.
    Perkenalkan Gada Bina Usaha Metal and Rubber Product

    BalasHapus

Berita Agroindustri

Kemasan Cerdas dengan Sensor Kebusukan Fillet Ikan. Mahasiswa bernama lengkap Yogi Waldingga Hasnedi berhasil membuat kemasan cerdas pendeteksi kebusukan fillet ikan. Ia memulai penelitiannya karena melihat bahwa penilaian kesegaran ikan yang dilakukan masyarakat sampai saat ini masih menggunakan indra dengan faktor yang diamati berupa penampakan (diamati pada mata, kulit, dan insang), tekstur, bau, dan warna. Sejalan dengan kemajuan teknik kemasan, berbagai penilaian tingkat kesegaran ikan saat ini telah mengarah pada produk kemasan yang terintegrasi antara nilai kemasan tersebut dengan tingkat kesegaran ikan itu sendiri...Selengkapnya

Tips Trik Menulis Skripsi