Selasa, 11 Mei 2010

Studi Kelayakan Gelatin


STUDI KELAYAKAN PENDIRIAN INDUSTRI GELATIN DARI KULIT SPLIT

MOHAMAD IHSANUR

DAFTAR ISI


DAFTAR ISI ………………………………………………………… 3
DAFTAR TABEL …………………………………………………… 6
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………… 7
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………… 8

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG …………………………………… 10
B. TUJUAN PENELITIAN…………………………………… 11
C. RUANG LINGKUP ……………………………………… 11

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. KULIT SPLIT ……………………………………………… 12
B. GELATIN ………………………………………………….. 14
C. STUDI KELAYAKAN ……………………………………. 17
1. Aspek Pasar dan Pemasaran ………………………17
2. Aspek Teknis dan Teknologis …………………17
3. Aspek Manajemen dan Organisasi …………18
4. Aspek Legal Yuridis …………………………………… 18
5. Aspek Lingkungan …………………………………….. 18
6. Aspek Finansial dan Ekonomi …………………19

III. METODOLOGI
A. KERANGKA PEMIKIRAN ……………………………… 20
B. PENGUMPULAN DATA …………………………………. 20
C. ANALISIS DATA …………………………………………. 22
1. Analisis Aspek Pasar dan Pemasaran ………………… 22
2. Analisis Aspek Teknis dan Teknologis ……………….. 24
3. Analisis Aspek Manajemen dan Organisasi …………. 24
4. Analisis Aspek Legal Yuridis …………………………. 26
5. Analisis Aspek Lingkungan …………………………… 27
6. Analisis Aspek Finansial dan Ekonomi ………………. 27

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN …………………… 31
1. Potensi Pasar …………………………………………… 31
2. Derajat Persaingan Struktur Pasar …………………... 33
3. Pangsa Pasar …………………………………………… 35
4. Strategi Bauran Pemasaran …………………………… 36
a. Strategi produk ……………………………………. 36
b. Strategi harga ……………………………………… 40
c. Strategi distribusi …………………………………. 42
d. Strategi promosi …………………………………… 43
B. ASPEK TEKNIS TEKNOLOGIS ………………………… 43
1. Bahan Baku ……………………………………………. 44
a. Ketersediaan bahan baku …………………………. 44
b. Harga ……………………………………………….. 44
c. Persentase rendemen ……………………………… 44
d. Kualitas gelatin …………………………………….. 45
2. Lokasi Perusahaan ……………………………………. 45
3. Lokasi Perusahaan …………………………………….. 47
4. Teknologi Proses ………………………………………. 48
5. Tata letak pabrik ………………………………………. 52
C. ASPEK MANAJEMEN DAN ORGANISASI …………… 57
1. Kebutuhan Tenaga Kerja …………………………….. 57
2. Struktur Organisasi …………………………………… 57
3. Deskripsi Tugas ……………………………………….. 59
D. ASPEK LEGAL YURIDIS ……………………………….. 62
1. Bentuk Usaha …………………………………………... 62
2. Prosedur Perizinan ……………………………………. 62
3. Perpajakan …………………………………………….. 65
E. ASPEK LINGKUNGAN ………………………………….. 66
1. AMDAL ………………………………………………… 66
a. KA-ANDAL ………………………………………… 66
b. ANDAL …………………………………………….. 66
c. RKL dan RPL ……………………………………… 67
2. Potensi Limbah Gelatin ……………………………….. 68
F.ASPEK FINANSIAL DAN EKONOMI …………………. 68
1. Asumsi ………………………………………………….. 68
2. Sumber dana dan Struktur Pembiayaan …………….. 69
3. Biaya Investasi …………………………………………. 69
4. Harga dan Prakiraan Penerimaan …………………… 71
5. Proyeksi Laba Rugi ……………………………………. 72
6. Proyeksi Arus Kas …………………………………….. 72
7. Analisa Titik Impas ……………………………………. 73
8. Kriteria Kelayakan Investasi …………………………. 73
a. NPV ………………………………………………… 73
b. IRR …………………………………………………. 74
c. Net B/C ……………………………………………… 74
d. PBP …………………………………………………. 74
9. Analisa Sensitivitas …………………………………….. 75
10.Analisis Ekonomi ………………………………………. 76
V.KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN ……………………………………………. 77
B. SARAN …………………………………………………….. 78

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………… 79
LAMPIRAN ………………………………………………………….. 84


DAFTAR TABEL

Tabel 1. Impor Gelatin Indonesia tahun 1995-2001 ………………… 10
Tabel 2. Penyebaran Kolagen dalam Berbagai Jaringan Mamalia …. 13
Tabel 3. Sifat Gelatin Berdasarkan Tipe ……………………………. 16
Tabel 4. Standar Mutu Gelatin ……………………………………… 16
Tabel 5. Impor dan Ekspor Gelatin Indonesia 1998-2001 ………….. 32
Tabel 6. Nilai Kecermatan Hasil Perkiraan Potensi Pasar Gelatin
Menggunakan Software MINITAB 13 ……………………. 32
Tabel 7. Perusahaan Gelatin di Dunia ………………………………. 34
Tabel 8. Persentase Produksi Gelatin Berdasar Bahan Baku ……….. 38
Tabel 9. Aplikasi dan Fungsi Gelatin ………………………………. 39
Tabel 10. Harga Gelatin dan Proyeksi Penjualan ……………………. 42
Tabel 11. Kandungan Logam Gelatin Berbahan Baku Kulit Split …… 45
Tabel 12. Kebutuhan Bahan Baku dan Energi pada Proses Produksi .. 52
Tabel 13. Kebutuhan Ruang Produksi dan Alokasi Wilayah ………… 56
Tabel 14. Tabulasi Tenaga Kerja Langsung …………………………. 58
Tabel 15. Jabatan dan Kualifikasi Tenaga Kerja …………………….. 59
Tabel 16. Komposisi Biaya Investasi Tetap …………………………. 70
Tabel 17. Komposisi Modal Kerja Industri Gelatin …………………. 71
Tabel 18. Analisis Sensitivitas Terhadap Harga Bahan Baku
Harga Jual dan Biaya Investasi Tetap ……………………… 75

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Studi Kelayakan
Pendirian Industri Gelatin Berbahan Baku Kulit Split … 21
Gambar 2. Diagram Analisis Aspek Pasar dan Pemasaran ……….. 24
Gambar 3. Diagram Analisis Aspek Teknis Teknologis ………….. 25
Gambar 4. Diagram Analisis Aspek Manajemen dan Organisasi … 26
Gambar 5. Diagram Analisis Aspek Finansial ……………………. 30
Gambar 6. Grafik Akhir Data dan Hasil Prakiraan
Teknik Dua Tahap SES-1 dan SES-2 …………………. 33
Gambar 7. Perbandingan Konsumsi Gelatin Dunia,
Pangsa Pasar Gelatin Dunia, Potensi Pasar Gelatin
di Indonesia dan Kapasitas Produksi Perusahaan
Berdasar Struktur Pasar ……………………………….. 36
Gambar 8. Produk dan Kemasan Gelatin …………………………. 40
Gambar 9. Alur Proses Pembuatan Gelatin Tipe A Berbahan Baku
Kulit Split ……………………………………………… 50
Gambar 10. Neraca Massa Proses Produksi Gelatin Tipe A
Berbahan Baku Kulit Split …………………………….. 51
Gambar 11. Neraca Energi Proses Produksi Gelatin Tipe A
berbahan Baku Kulit Split …………………………….. 52
Gambar 12. Bagan Keterkaitan Aktivitas …………………………… 54
Gambar 13. Diagram Keterkaitan Kegiatan ……………………….. 45
Gambar 14. Alokasi Wilayah Ruang Produksi ……………………… 56

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Tabulasi Kebutuhan Neraca Massa Proses
Produksi Gelatin …………………………………… 84
Lampiran 2. Tabulasi Kebutuhan Neraca Energi dan
Rincian Alat dan Mesin Proses Produksi ………… 86
Lampiran 3. Rincian Alat dan Mesin Evaporasi dan
Pengering Proses Produksi Gelatin ………………. 88
Lampiran 4. Pemilihan Metode Prakiraan Demand Gelatin
Menggunakan Software Minitab 13 for Windows.. 89
Lampiran 5. Struktur Organisasi Perusahaan ………………… 92
Lampiran 6. Angsuran Modal Investasi Tetap dan Modal
Kerja Industri Gelatin …………………………….. 93
Lampiran 7. Perincian Biaya Investasi Tetap, Nilai Sisa
dan Biaya Depresiasi Industri Gelatin …………… 94
Lampiran 8. Biaya Tenaga Kerja Industri Gelatin ……………. 97
Lampiran 9. Biaya Bahan Baku dan Bahan Pembantu ……….. 97
Lampiran 10. Biaya Operasional Industri Gelatin dari Kulit Split 98
Lampiran 11. Proyeksi Pendapatan Industri Gelatin……………. 98
Lampiran 12. Proyeksi Laba Rugi Industri Gelatin …………….. 99
Lampiran 13. Proyeksi Arus Kas Industri Gelatin ……………… 99
Lampiran 14. Perhitungan NPV, IRR, Net B/C dan PBP
Industri Gelatin ……………………………………. 100
Lampiran 15. Perhitungan Analisis Sensitivitas Kenaikan
Bahan Baku dan Bahan Pembantu 493 % ………. 100
Lampiran 16. Perhitungan Analisis Sensitivitas Kenaikan
Bahan Baku dan Bahan Pembantu 495 % ………. 101
Lampiran 17. Perhitungan Analisis Sensitivitas Penurunan
Harga Jual 10,76 % ……………………………….. 101
Lampiran 18. Perhitungan Analisis Sensitivitas Penurunan
Harga Jual 10,78 % ……………………………….. 102
Lampiran 19. Perhitungan Analisis Sensitivitas Kenaikan
Biaya Investasi 17,85 % …………………………… 102
Lampiran 20. Perhitungan Analisis Sensitivitas Kenaikan
Biaya Investasi 17,87 % …………………………… 103

I. PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Industri yang memanfaatkan gelatin sebagai bahan baku meliputi industri pangan, farmasi, kesehatan, fotograpi, kosmetika dan teknik. Hal tersebut menyebabkan permintaan terhadap gelatin menjadi tinggi. Permintaan gelatin di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 2.772 ton.

Tingginya permintaan gelatin tidak diimbangi dengan produksi gelatin lokal yang memadai baik dari sisi mutu maupun jumlahnya. Hampir seluruh gelatin yang digunakan di Indonesia adalah produk impor. Sejak tahun 1995, impor gelatin dan produk berbahan baku gelatin di Indonesia cenderung meningkat. Data impor gelatin disajikan pada tabel 1. Berdasarkan data tersebut, rata-rata impor gelatin di Indonesia mengalami peningkatan sekitar 15,37 %. Hal tersebut menunjukkan terdapat peluang yang besar untuk didirikannya industri gelatin berskala besar di Indonesia.

Tabel 1. Impor Gelatin Indonesia tahun 1995-2001
NoTahunImpor Gelatin (kg)119952.010.322219962.861.207319972.244.801419982.647.985519992.773.741620003.418.383720014.291.579
Sumber : Biro Pusat Statistik (2003)

Peluang tersebut didukung pula oleh tersedianya bahan baku untuk pembuatan gelatin yang cukup besar. Gelatin dapat dibuat dari bahan baku kulit dan tulang hewan (sapi, domba, pari, cucut, unggas dll.). Salah satu yang potensial dijadikan bahan baku adalah kulit split. Berdasarkan data BPS (2000), jumlah produksi kulit sapi bahan kerupuk (kulit split) pada tahun 1999 sebesar 3.657 ton.
Peluang tersebut coba dimanfaatkan oleh PT. XYZ Indonesia yang akan memperluas usahanya pada industri gelatin. Industri gelatin perlu didirikan sebagai upaya peningkatan nilai tambah dari bahan baku dan sebagai upaya pemenuhan permintaan gelatin.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya studi kelayakan proyek industri gelatin berskala besar di Indonesia. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), perencanaan proyek industri atau studi kelayakan proyek secara ringkas bertujuan menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan.

Studi kelayakan pendirian industri gelatin meliputi analisis aspek pasar dan pemasaran, teknis dan teknologis, manajemen dan organisasi, legal yuridis, lingkungan, dan finansial serta ekonomi. Semua aspek yang dikaji tersebut akan menentukan layak atau tidaknya industri gelatin berbahan baku kulit split ini didirikan.

B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kelayakan pendirian industri gelatin berbahan baku kulit split. Kajian aspek pasar dan pemasaran, teknis dan teknologis, manajemen dan organisasi, legal yuridis, lingkungan, dan finansial serta ekonomi akan menentukan layak atau tidaknya industri gelatin berbahan baku kulit split didirikan.

C. RUANG LINGKUP
Studi pendirian industri gelatin meliputi beberapa aspek yang mempengaruhi pendirian industri gelatin berbahan baku kulit split. Ruang lingkup studi kelayakan ini adalah sebagai berikut :

1. Analisis aspek pasar dan pemasaran, analisis ini meliputi potensi pasar, derajat persaingan struktur pasar, pangsa pasar dan bauran pemasaran.
2. Analisis aspek teknis teknologis, analisis ini meliputi bahan baku, lokasi, kapasitas produksi, teknologi proses dan tata letak pabrik.
3. Analisis aspek manajemen dan organisasi, analisis ini meliputi kebutuhan tenaga kerja, struktur organisasi dan deskripsi tugas.
4. Analisis aspek legal yuridis, analisis ini meliputi bentuk usaha, prosedur perizinan dan perpajakan.
5. Analisis aspek lingkungan, analisis ini meliputi AMDAL dan potensi limbah gelatin.
6.Analisis aspek finansial dan ekonomi, analisis ini meliputi penentuan asumsi, sumber dana dan struktur pembiayaan, biaya investasi, harga dan prakiraan penerimaan, proyeksi laba rugi, proyeksi arus kas, analisis titik impas, kriteria kelayakan investasi dan analisis ekonomi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. KULIT SPLIT
Secara histologis kulit hewan dibagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan epidermis, dermis (corium) dan subcutis (Purnomo, 1985). Lapisan dermis (corium) adalah bagian pokok tenunan kulit yang diperlukan dalam pembuatan gelatin karena lapisan ini sebagian besar (80%) terdiri dari jaringan serat kolagen yang dibangun oleh tenunan pengikat (Judoamidjojo,1974).

Setelah pengapuran, kulit dibelah menjadi kulit bagian atas dan kulit bagian bawah. Kulit bagian atas digunakan untuk membuat kulit samak. Kulit bagian bawah, disebut dengan kulit split, digunakan untuk membuat gelatin (Goossens, 2002). Tabel penyebaran kolagen dalam berbagai jaringan mamalia dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Penyebaran Kolagen dalam Berbagai Jaringan Mamalia
Jenis JaringanKolagen (%)Kulit89Tulang24Tendon85Aorta23Otot2Usus besar18Lambung23Ginjal 5Hati2
Sumber : Ward dan Courts (1977)

Kolagen yang terkandung dalam kulit akan terputus jika terkena asam kuat dan basa kuat dan akan mengalami transformasi dari bentuk uraian tidak larut dan tidak tercerna menjadi gelatin dalam air panas (Lehninger, 1993).


B. GELATIN

Gelatin merupakan senyawa turunan yang dihasilkan dari serabut kolagen jaringan penghubung, kulit, tulang dan tulang rawan yang dihidrolisis dengan asam atau basa (Charley, 1982). Sumber utama bahan baku gelatin komersial adalah tulang sapi, kulit sapi, kulit babi dan ikan (NOSB TAP Review, 2002).

Pada produk pangan, gelatin banyak dimanfaatkan sebagai bahan penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), pengikat (binder), pengental (thickener), pengemulsi (emulsifier) dan perekat (adhesive) (Poppe, 1992). Gelatin juga termasuk golongan surfaktan (surface active agents) karena kemampuannya untuk menurunkan tegangan antar muka (Suryani et al., 2000). Gelatin berguna dalam industri fotografi dan pelapisan logam dalam industri elektroplating (Ward dan Courts, 1977).

Penelitian tentang aplikasi gelatin dalam bidang kosmetika antara lain pembuatan sabun mandi cair dengan pengemulsi gelatin tipe B (Engko, 2002), aplikasi gelatin tipe A dari kulit sapi pada produk hand and body (Mardhiah, 2002), aplikasi gelatin tipe A dari kulit sapi pada produk krim tabir surya (sunscreen cream) (Antony, 2002), aplikasi gelatin tipe A berbahan baku kulit sapi pada produk susu pembersih (cleansing milk) (Haryati, 2002), aplikasi gelatin tipe B sebagai bahan pengental produk sampo (Ismayanti, 2002), aplikasi gelatin tipe B pada produk shower gel (Ningrum, 2002), aplikasi gelatin tipe A sebagai bahan pengental dalam pembuatan skin lotion (Safira, 2003) dan aplikasi gelatin tipe A dari kulit sapi sebagai bahan pengental (thickening agent) dalam formulasi deodorant roll-on (Inugraha, 2003).
Pada prinsipnya proses pembuatan gelatin dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu proses asam dan proses basa. Perbedaan kedua proses ini terletak pada proses perendamannya (Pelu et al., 1998). Dalam pembuatan gelatin tipe A, bahan baku diberi perlakukan perendaman dalam larutan asam anorganik seperti asam klorida, asam sulfat, asam sulfit atau asam fosfat sehingga proses ini dikenal dengan sebutan proses asam. Sedangkan untuk menghasilkan gelatin tipe B, perlakuan yang diaplikasikan adalah perendaman dalam air kapur. Proses ini disebut dengan proses alkali (Imeson, 1992).

Hal yang perlu diperhatikan adalah gelatin harus ditangani secara higienis karena mudah terserang mikroorganisme dan kemungkinan adanya penambahan atau adanya senyawa lain yang dapat merusak gelatin seperti asam dan enzim proteolitik. Enzim proteolitik merusak atau menguraikan protein gelatin sedangkan asam dapat menggumpalkan protein sehingga fungsinya menjadi terganggu (Ward dan Courts, 1977).
Menurut Hinterwaldner (1977), proses produksi utama gelatin dibagi dalam tiga tahap : 1) tahap persiapan bahan baku, 2) tahap konversi kolagen menjadi gelatin dan 3) tahap pemurnian gelatin dengan penyaringan dan pengeringan.

Penggunaan gelatin ditentukan oleh parameter-parameter atau sifat-sifat fisik, kimia dan fungsional gelatin yang menjadikan gelatin sebagai karakter yang unik (Jones, 1977). Gelatin memiliki titik leleh di bawah 37 0C. Hal tersebut berarti gelatin dapat meleleh di dalam mulut dan mudah sekali larut (Poppe, 1992). Sifat-sifat gelatin tergantung dari komposisi asam amino penyusunnya. Komposisi asam amino bervariasi tergantung pada sumber kolagen, spesies hewan penghasil dan jenis kolagen (Ward dan Courts, 1977).

Karakteristik utama yang dapat menjelaskan perilaku gelatin sebagai sebuah produk komersial ditentukan oleh beberapa parameter fisik dan kimia. Karakteristik utama tersebut meliputi kekuatan gel, viskositas, kekuatan busa (foamibility), titik lebur, warna dan aroma, konduktivitas dan pH (Rubin, 2002).
Dalam penggunaan gelatin pada berbagai jenis industri, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap fungsi gelatin yaitu konsentrasi, berat molekul, suhu, pH dan penambahan senyawa lain (Meyer, 1982). Sifat gelatin berdasarkan tipenya dapat dilihat pada tabel 3 .

Tabel 3. Sifat Gelatin Berdasarkan Tipenya
SifatTipe ATipe BKekuatan gel (bloom)75-30075-275Viskositas2,0-7,52,0-7,5Kadar abu (%)0,3-2,00,05-2,0PH3,8-6,05,0-7,0Titik isoelektrik9,0-9,24,8-5,0
Sumber : Tourtelotte (1980)

Reaksi pembentukan gel oleh gelatin bersifat reversible. Keadaan tersebut membedakannya dengan gel dari pektin, alginat, pati, albumin telur dan protein susu yang bentuk gelnya irreversible (Johns, 1977).

Tabel 4. Standar Mutu Gelatin
Karakteristik MutuSyaratWarnaTidak berwarnaBau, rasaNormal (dapat diterima konsumen)Kadar airMaksimum 16 %Kadar abuMaksimum 3,25 %Logam beratMaksimum 50 mg/kgArsenMaksimum 2 mg/kgTembagaMaksimum 30 mg/kgSengMaksimum 100 mg/kgSulfitMaksimum 1000 mg/kg
Sumber : SNI (1995)

Menurut Mark dan Stewart (1957), sifat fisik gelatin dapat berupa bubuk, pasta maupun lembaran.. Gelatin komersial bersifat tidak berasa, tidak berbau, warnanya kekuningan sampai tidak berwarna. Warna gelatin tergantung pada bahan baku, proses dan jumlah tahap ekstraksi yang digunakan. Menurut Imeson (1992), warna gelatin yang dihasilkan dapat bervariasi dari 1,5 (kuning pucat) sampai 14 (coklat).

C. STUDI KELAYAKAN

Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat atau tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono, 2000). Studi kelayakan proyek dapat didefinisikan sebagai suatu studi secara mendalam serta seksama tentang berbagai aktivitas yang akan dikerjakan di masa mendatang untuk melihat atau mengetahui tingkat kelayakan laba yang akan diperoleh (Ichsan et al., 2003).

Umumnya penelitian sudi kelayakan meliputi aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan produksi, aspek keuangan, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek ekonomi serta sosial (Husnan dan Suwarsono, 2000). Penelitian terhadap keadaan dan prospek suatu industri dilakukan atas kriteria-kriteria tertentu. Kriteria tersebut meliputi aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologis, aspek manajemen operasional, aspek yuridis dan aspek ekonomi- finansial (Sutojo, 2000).

1. Aspek Pasar dan Pemasaran
Analisis aspek pasar dan pemasaran terhadap suatu usulan proyek ditujukan untuk mendapatkan gambaran mengenai besar pasar potensial yang tersedia untuk masa yang akan datang. Selain itu analisis pasar mencakup juga gambaran mengenai strategi pemasaran yang digunakan untuk mencapai pangsa pasar yang telah ditetapkan (Husnan dan Suwarsono, 2000). Untuk dapat memenangkan pasar dibutuhkan perencanaan strategis yang berorientasi pasar dan mengembangkan strategi pemasaran yang tepat (Kotler, 2002).

2. Aspek Teknis dan Teknologis
Beberapa hal yang perlu dijelaskan dalam aspek teknis dan teknologis adalah lokasi proyek, skala produksi, kriteria pemilihan mesin dan perlengkapan utama dan pembantu, proses produksi dan desain pabrik dan jenis teknologi yang dipilih (Husnan dan Suwarsono, 2000). Desain pabrik meliputi seluruh aspek teknik termasuk pengembangan pabrik baru, modifikasi atau perluasan pabrik industri. Setelah tahap proses desain akhir selesai baru memungkinkan untuk membuat estimasi biaya yang akurat karena detail spesifikasi peralatan dan mesin dan fasilitas pabrik telah tersedia (Max dan Timmerhaus, 1991).

3. Aspek Manajemen dan Organisasi
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), aspek manajemen dan organisasi meliputi manajemen pembangunan proyek dan manajemen dalam operasi. Manajemen dalam operasi meliputi identifikasi jenis-jenis pekerjaan yang diperlukan, persyaratan yang diperlukan dan struktur organisasi yang digunakan. Menurut Stoner dan Edward (1994), struktur organisasi merujuk kepada cara dimana kegiatan-kegiatan sebuah organisasi dibagi, diorganisasikan dan dikoordinasi.

4. Aspek Legal Yuridis
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), aspek hukum mempelajari tentang bentuk badan usaha yang dipergunakan, jaminan-jaminan yang dapat digunakan jika menggunakan sumber dana yang berasal dari pinjaman dan berbagai akte, sertifikat serta ijin yang diperlukan. Menurut Simatupang (2003), pembahasan aspek hukum dalam bisnis atau industri meliputi bentuk badan usaha dan peraturan-peraturan mengenai kontrak dan penyelesaiannya, hubungan bisnis, hak milik intelektual, lembaga-lembaga pembiayaan, aspek pajak, perijinan dan kepailitan.

5. Aspek Lingkungan
Menurut Suratmo (1998), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) diperlukan karena dua hal. Pertama, AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang akan dibangun karena Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah menghendaki demikian. Apabila pemilik atau pemrakarsa proyek tidak melakukannya maka akan melanggar undang-undang dan besar kemungkinan perizinan untuk membangun proyek tersebut tidak akan didapat atau akan menghadapi pengadilan yang dapat memberikan sangsi-sangsi yang tidak ringan. Kedua, AMDAL harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena adanya proyek-proyek pembangunan.

6. Aspek Finansial dan Ekonomi
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), aspek keuangan mempelajari berbagai faktor penting meliputi dana investasi (aktiva dan modal kerja), sumber-sumber perbelanjaan (modal sendiri, pinjaman jangka pendek dan panjang), taksiran penghasilan, biaya dan rugi/laba pada berbagai tingkat operasi, manfaat dan biaya dalam artian finansial (rate of return on investment, net present value, internal rate of return, Net B/C, profitability index, pay back period, resiko proyek, analisa sensitivitas) dan proyeksi keuangan. Sedangkan aspek ekonomi meliputi tentang pengaruh proyek terhadap peningkatan penghasilan negara, pengaruh proyek terhadap devisa yang dapat dihemat dan yang dapat diperoleh, penambahan dan pemerataaan kesempatan kerja dan pengaruh proyek terhadap industri lain. Simangunsong (1989), menyatakan bahwa dalam kajian finansial juga dilakukan analisis biaya, penentuan harga pokok dan harga jual produk.

III. METODOLOGI


A. KERANGKA PEMIKIRAN

Gelatin memiliki kegunaan yang sangat beragam, mulai dari industri pangan, farmasi, kesehatan, fotograpi, kosmetika sampai dengan teknik. Hal ini menyebabkan permintaan pasar terhadap gelatin sangat tinggi. Karena di Indonesia belum memiliki industri gelatin skala besar maka permintaan yang besar terhadap gelatin dipenuhi dengan melakukan impor.

Bahan baku gelatin di Indonesia tersedia cukup banyak dan tenaga kerja yang ahli dalam hal teknologi pembuatan gelatin juga sudah mencukupi. Peluang tersebut coba dimanfaatkan oleh PT. XYZ Indonesia yang akan memperluas usahanya pada industri gelatin. Industri gelatin perlu didirikan sebagai upaya peningkatan nilai tambah dari bahan baku dan sebagai upaya pemenuhan permintaan gelatin. Dalam mendirikan industri besar, studi kelayakan mutlak diperlukan sebagai salah satu upaya meminimalisir resiko usaha.

Studi kelayakan pendirian industri gelatin meliputi analisis aspek pasar dan pemasaran, teknis dan teknologis, manajemen dan organisasi, legal yuridis, lingkungan, dan finansial serta ekonomi. Semua aspek yang dikaji tersebut akan menentukan layak atau tidaknya industri gelatin berbahan baku kulit split ini didirikan. Selain itu, aspek yang dikaji tersebut dapat memberi pengetahuan tentang langkah-langkah pendirian industri gelatin berbahan baku kulit split. Kerangka pemikiran dalam bentuk diagram dapat dilihat pada gambar 1.

B. PENGUMPULAN DATA

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Pengumpulan data bertujuan memperoleh informasi, gambaran dan keterangan tentang hal-hal yang berhubungan dengan studi sehingga data tersebut dapat dipergunakan untuk pemecahan masalah dan pertimbangan pengambilan keputusan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapang.

Data primer diperoleh melalui penelitian dan pengamatan langsung di lapangan, laboratorium dan wawancara dengan pakar serta instansi terkait. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi pustaka dan pencatatan data yang tersedia pada instansi-instansi terkait. Khusus untuk pengumpulan data harga, karena sangat menentukan terhadap kelayakan industri maka dilakukan dengan langsung menghubungi penyedia alat atau mesin serta bahan baku dan bahan pembantu. Izin dan perpajakan mengacu pada peraturan yang berlaku di daerah pendirian pabrik. Beberapa harga alat dan mesin dihitung dengan metode Chemical Engineering Cost Plant index (CEP indeks) yaitu dengan menginterpolasi nilai CEP indeks berdasarkan diagram harga CEP indeks (Ulrich, 1991).

C. ANALISIS DATA

Analisis data terdiri dari analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan bantuan beberapa program komputer. Hasil analisis data kuantitatif maupun data kualitatif kemudian didukung oleh kajian dari pakar melalui studi literatur.

1. Analisis Aspek Pasar dan Pemasaran
Analisis aspek pasar dan pemasaran meliputi analisis potensi pasar, derajat persaingan struktur pasar, pangsa pasar dan bauran pemasaran. Analisis potensi pasar yaitu menghitung prakiraan permintaan gelatin di Indonesia menggunakan data impor gelatin. Prakiraan gelatin diawali oleh pemilihan metode prakiraan deret waktu (Single Exponential Smoothing, Double Exponential Smoothing, Trend Analysis, Single Exponential Smoothing dan Moving Average) berdasar nilai kecermatan yaitu MAPE (Mean Absolute Percentage Error), MAD (Mean Absolute Deviation) dan MSD (Mean Squared Deviation). Perhitungan prakiraan tersebut dilakukan dengan bantuan software MINITAB 13. Menurut Machfud (1999), metode dan hasil prakiraan yang dipakai adalah yang nilai kecermatannya paling kecil.

Analisis derajat persaingan struktur pasar digunakan untuk menentukan posisi perusahaan berdasarkan kapasitas perusahaan-perusahaan produsen gelatin dunia. Dengan ditentukannya posisi perusahaan, kapasitas perusahaan berdasarkan struktur persaingan dapat ditentukan. Hasil tersebut dibandingkan dengan perhitungan pangsa pasar gelatin dunia dengan analisis struktur pasar menggunakan tabel Fellows (1996). Jika kapasitas perusahaan berdasarkan struktur persaingan lebih kecil dari pangsa pasar gelatin dunia dan atau lebih kecil dari potensi pasar gelatin di Indonesia maka kapasitas tersebut layak digunakan sebagai acuan.

Setelah pasar potensial, pangsa pasar dan acuan kapasitas gelatin didapat, analisis strategi bauran pemasaran dilakukan untuk memberi gambaran peluang perusahaan dalam mencapai target pasar yang ditetapkan. Analisis strategi bauran pemasaran meliputi strategi produk, strategi harga, strategi distribusi dan strategi promosi. Diagram analisis pasar dan pemasaran dapat dilihat pada gambar 2.

2. Analisis Aspek Teknis dan Teknologis
Analisis aspek teknis dan teknologis meliputi analisis bahan baku, lokasi, kapasitas produksi, teknologi proses dan tata letak pabrik. Analisis bahan baku terdiri dari kajian berdasar ketersediaan bahan baku, harga bahan baku, persentase rendemen dan kualitas gelatin yang dihasilkan. Ketersediaan bahan baku berpengaruh terhadap kontinuitas produksi dari industri gelatin. Harga kulit split dan persentase rendemen menunjukkan tingkat nilai tambah yang didapat dari industri gelatin sedangkan kualitas gelatin menunjukkan gelatin yang akan diproduksi sesuai standar yang diperbolehkan.

Analisis lokasi dilakukan untuk menunjukkan kelayakan lokasi yang telah tersedia. Lokasi telah ditetapkan di dalam lingkungan pabrik PT. XYZ Indonesia yang telah berdiri. Beberapa parameter yang dipakai adalah sisi perizinan, kedekatan dengan bahan baku, kedekatan dengan pasar, kedekatan dengan pemasok tenaga kerja, kemudahan transportasi dan tersedianya utilitas.

Kapasitas produksi ditetapkan berdasar analisis pasar dan pemasaran serta berdasarkan teknologi proses dan mesin yang dipilih. Analisis teknologi proses meliputi teknologi yang dipilih, mesin dan peralatan yang digunakan dan penghitungan neraca massa serta neraca energi. Analisis tata letak pabrik dimulai dengan membuat bagan keterkaitan aktivitas dengan mengacu pada proses produksi. Selanjutnya, informasi pada bagan keterkaitan aktivitas dituangkan pada diagram keterkaitan kegiatan. Kebutuhan ruang produksi serta alokasi wilayah ditentukan dengan mengacu pada diagram keterkaitan kegiatan dan jumlah serta luasan mesin yang dibutuhkan. Diagram analisis teknis dan teknologis dapat dilihat pada gambar 3.

3. Analisis Aspek Manajemen dan Organisasi
Analisis aspek manajemen dan organisasi meliputi analisis kebutuhan tenaga kerja, struktur organisasi dan deskripsi tugas. Tenaga kerja yang dibutuhkan terdiri dari tenaga kerja langsung dan tenaga tidak langsung. Kebutuhan tenaga kerja langsung mengacu pada teknologi proses produksi, mesin dan peralatan serta ruangan proses produksi yang direncanakan. Kebutuhan tenaga kerja tidak langsung mengacu pada efisiensi dan efektifitas penjalanan perusahaan. Struktur organisasi dan deskripsi tugas dianalisis berdasarkan kebutuhan perusahaan. Diagram analisis aspek manajemen dan organisasi dapat dilihat pada gambar 4.

4. Analisis Aspek Legal Yuridis
Analisis aspek legal yuridis meliputi analisis bentuk usaha, prosedur perizinan dan perpajakan. Analisis bentuk usaha memaparkan keuntungan dan kerugian perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Analisis prosedur perizinan hanya akan memaparkan Izin Perluasan dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dikaitkan dengan status perusahaan yang telah berproduksi dan akan melakukan perluasan usaha. Pajak yang dikaji hanya pajak penghasilan karena perusahaan yang berbentuk PT. termasuk salah satu subjek pajak.

5. Analisis Aspek Lingkungan
Analisis aspek lingkungan meliputi analisis prosedur AMDAL dan analisis potensi limbah gelatin. Analisis prosedur AMDAL terdiri dari dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL), Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).

6. Analisis Aspek Finansial dan Ekonomi
Analisis aspek finansial dan ekonomi meliputi penentuan asumsi, analisis sumber dana dan struktur pembiayaan, biaya investasi, harga dan prakiraan penerimaan, proyeksi laba rugi, proyeksi arus kas, analisis titik impas, kriteria kelayakan investasi dan analisis ekonomi. Asumsi digunakan sebagai acuan perhitungan aspek finansial. Diagram analisis aspek finansial dapat dilihat pada gambar 5.
Kriteria kelayakan investasi yang dianalisis yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP) dan analisa sensitivitas. Break Event Point (BEP) digunakan untuk melihat volume penjualan dimana perusahaan tersebut sudah dapat menutup semua biaya-biayanya tanpa mengalami kerugian maupun keuntungan.

1. BEP (Analisa titik impas)
Perhitungan analisa titik impas) adalah sebagai berikut :
BEP = Biaya tetap
1- (Biaya variabel/Total penerimaan)

2. NPV
Menurut Gray et al (1992), formula yang digunakan untuk menghitung NPV adalah:


dimana :
Bt = benefit social brutto pada tahun t
Ct = cost social brutto sehubungan dengan proyek pada tahun t
i = tingkat suku bunga pada periode-t
t = periode investasi (t=0,1,2,3…n)
Apabila hasil perhitungan nilai NPV dalam suatu proyek didapatkan nilai yang lebih besar atau sama dengan nol berarti proyek tersebut layak untuk dilaksanakan. Apabila nilai NPV yang dihasilkan lebih besar daripada nol, berarti proyek dapat menghasilkan keuntungan. Apabila nilai NPV yang dihasilkan sama dengan nol berarti proyek tersebut akan mengembalikan biaya sebesar opportunity cost faktor produksi modal. Apabila nilai NPV yang dihasilkan kurang dari nol berarti proyek tersebut tidak dapat menghasilkan keuntungan. Oleh sebab itu, pelaksanaannya harus ditolak.

3. IRR
Fomulasi matematik IRR menurut Gray et al. (1992) adalah sebagai berikut :


dimana :
Bt = benefit social brutto pada tahun t
Ct = cost social brutto sehubungan dengan proyek pada tahun t
i = tingkat suku bunga (%) pada periode-i
n = umur ekonomis proyek

4. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Gray et al. (1992) menjelaskan rumus Net B/C sebagai berikut :

Net B/C =

dimana :
Bt = benefit social brutto pada tahun t
Ct = biaya social brutto sehubungan dengan proyek pada tahun t
i = tingkat suku bunga (%)
n = umur ekonomis proyek

Kriteria kelayakan proyek adalah jika Net B/C lebih besar atau sama dengan satu. Sedangkan proyek dinyatakan tidak layak apabila Net B/C lebih kecil dari satu.

5. Pay Back Period (PBP)
Pay Back Period (PBP) menunjukkan berapa lama modal yang ditanam dalam investasi akan kembali. Rumus yang digunakan untuk menghitung Pay Back Period (PBP) adalah sebagai berikut :


Dimana
M = nilai pay back period
Rk = pendapatan bersih untuk periode ke-k
Ek = pengeluaran untuk periode ke-k
p = investasi awal

6. Analisa Sensitifitas
Analisa titik impas akan dilakukan dengan menaikkan harga bahan baku, menurunkan harga jual dan menaikkan biaya investasi. Dengan perubahan tersebut, kriteria-kriteria kelayakan investasi juga akan berubah. Perubahan dilakukan sampai kriteria kelayakan berada pada kisaran titik kritis antara layak dan tidak layak.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
Kajian aspek pasar dan pemasaran meliputi pengukuran potensi pasar, pendefinisian struktur pasar, pengukuran pangsa pasar dan perumusan strategi bauran pemasaran. Dalam mengkaji aspek pasar dan pemasaran gelatin, perusahaan perlu membedakan antara produk bisnis/industri dengan produk konsumsi. Gelatin termasuk produk bisnis/industri yang diperjualbelikan pada pasar bisnis.

Pasar bisnis terdiri dari semua organisasi yang memperoleh barang dan jasa yang digunakan dalam memproduksi barang dan jasa lain yang dijual, disewakan atau dipasok kepada pihak lain (Kotler, 2002). Perbedaan antara produk bisnis/industri dengan produk konsumsi akan membuat perbedaan dalam melakukan pengukuran potensi pasar, pendefinisian struktur pasar pengukuran pasar dan perumusan strategi bauran pemasaran.

1. Potensi Pasar

Stanton (1997), mendefinisikan potensi pasar (market potensial) untuk sebuah produk sebagai penjualan total yang diharapkan selama periode tertentu didalam pasar tertentu. Sedangkan menurut Kotler (2002), potensi pasar adalah batas yang didekati oleh permintaan pasar ketika pengeluaran pemasaran industri mendekati tak terhingga untuk lingkungan pemasaran tertentu. Potensi pasar dapat diukur dengan ramalan penjualan yang dapat dikembangkan berdasarkan penjualan yang lalu.

Peramalan atau prakiraan permintaan gelatin di Indonesia dilakukan dengan menggunakan data impor dikurang ekspor gelatin per bulan dari tahun 1998-2001 dan teknik prakiraan penjualan dipilih dengan bantuan software MINITAB 13. Karena di Indonesia belum ada industri gelatin maka impor dikurang ekspor gelatin sama dengan permintaan gelatin di Indonesia. Data impor-ekspor gelatin di Indonesia tahun 1998-2001 dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Impor dan Ekspor Gelatin Indonesia 1998-2001
1998199920002001IMPOR (I)1.851.3282.371.7383.418.3834.291.579EKSPOR (E)16.00014.98485.73671.405I-E1.835.3282.356.7543.332.6474.220.174
Sumber : Biro Pusat Statistik (2003)

Metode prakiraan terbaik yang didapatkan menggunakan software MINITAB 13 adalah metode kuantitatif deret waktu teknik dua tahap, Single Exponential Smoothing-1 (SES-1) dan Single Exponential Smooting-2 (SES-2) dengan nilai kecermatan prakiraaan MAPE (Mean Absolute Percentage Error) sebesar 11 %, MAD (Mean Absolute Deviation) sebesar 27.623,0 dan MSD (Mean Squared Deviation) sebesar 1,47E+09. Menurut Machfud (1999), nilai kecermatan hasil prakiraan menunjukkan sejauh mana selisih hasil perkiraan dengan kejadian aktual juga mencerminkan sejauh mana teknik prakiraan yang digunakan sesuai dengan pola data.

Nilai kecermatan hasil perkiraan teknik dua tahap SES-1 dan SES-2 tersebut lebih baik karena nilai MAPE, MAD dan MSD lebih kecil dibandingkan teknik yang lain. Nilai MAPE, MAD dan MSD seluruh teknik prakiraan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 6. Nilai keseluruhan prakiraan teknik dua tahap SES-1 dan SES-2, grafik dan nilai kecermatan hasil prakiraan dapat dilihat pada lampiran 4. Hasil prakiraan dari teknik dua tahap, SES-1 dan SES-2 dapat dilihat pada gambar 6.

Tabel 6. Nilai Kecermatan Hasil Perkiraan Potensi Pasar Gelatin Menggunakan Software MINITAB 13

Teknik PrakiraanNilai Kecermatan Hasil PrakiraanMAPE (%)MADMSDDua Tahap, SES-1 & SES-211.0027.623,01,47E+09Dua Tahap, SES & MA17,0049.122,04,59E+09Double Exponential Smoothing40,0090.056,01,56E+10Trend Analysis38,5481.207,71,27E+10Single Exponential Smoothing38,0085.521,01,41E+10Moving Average (MA)35,0090.729,01,70E+10



Gambar 6. Grafik Akhir Data dan Hasil Prakiraan
Teknik Dua Tahap SES-1 dan SES-2

Hasil prakiraan dari teknik dua tahap SES-1 dan SES-2 adalah permintaan gelatin pada tahun 2002 dan tahun-tahun berikutnya sebesar 230.608 kg setiap bulannya atau sebesar 2.767.296 kg setiap tahunnya. Jumlah tersebut adalah pasar potensial dari industri gelatin karena tidak ada penyediaan gelatin dalam negeri.

2. Derajat Persaingan Struktur Pasar
Menurut Stanton (1991), struktur pasar didefinisikan sebagai sifat-sifat organisasi pasar yang mempengaruhi perilaku dan keragaan perusahaan. Istilah struktur pasar merujuk pada tipe pasar, sedangkan derajat persaingan struktur pasar dipakai untuk menunjuk sejauh mana perusahaan-perusahaan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atau ketentuan-ketentuan lain dari produk yang dijualnya.

Derajat persaingan struktur pasar gelatin perlu dikaji selain untuk menentukan pangsa pasar gelatin yang dapat diraih oleh perusahaan baru, juga untuk melihat sejauh mana perusahaan baru tersebut berpeluang untuk bertahan dan berkembang diantara perusahaan pesaing yang telah lebih dahulu stabil.

Berdasarkan data Depperindag (2003), Indonesia saat ini tidak mempunyai perusahaan gelatin berskala besar. Hal tersebut berarti hampir seluruh kebutuhan gelatin Indonesia dipenuhi oleh impor. Jika perusahaan gelatin ini berdiri maka akan menjadi satu-satunya penyedia gelatin yang bertempat di Indonesia. Kondisi tersebut bukan berarti terjadi monopoli murni karena konsumen tetap dapat mengimpor gelatin dari luar negri. Struktur pasar yang terjadi tetap pada persaingan murni dalam skala internasional tetapi perusahaan gelatin ini mempunyai keunggulan dari sisi geografis, harga, relasi dan status kehalalan produk dibandingkan perusahaan-perusahaan penghasil gelatin dari luar negeri. Menurut Kotler (2002), persaingan murni terjadi dimana banyak pesaing menawarkan produk dan jasa yang sama.
Berdasarkan data GME (Gelatin Manucfaturing Europe) Organization tahun 2001, konsumsi gelatin dunia sebesar 269.400 ton. Produksi sebesar itu menyebar di antara sekitar 12 perusahaan besar dan ratusan perusahaan kecil. Daftar perusahaan beserta kapasitas produksinya dapat dilihat pada tabel 7. Perusahaan gelatin yang dikaji ini dapat memposisikan diri sebagai perusahaan pengikut pasar gelatin yang telah mapan. Perusahaan akan bersaing dengan perusahaan- perusahaan yang berada pada urutan bawah atau dapat menjadi pemimpin pasar diantara perusahaan-perusahaan kecil selain 12 perusahaan besar tersebut. Menurut Kotler (2002), perusahaan kecil umumnya menghindari persaingan melawan pasar besar dengan mengincar pasar kecil yang kurang atau tidak menarik bagi perusahaan besar.

Tabel 7. Perusahaan Gelatin di Dunia
NoNama PerusahaanProduksi (ton)Persentase (%)1Gelita Group75,00027.842Rousselote50,00018.563PB Gelatin37,00013.734Weishardt12,5004.645Reinert Gruppe6,0002.236Miquel Junca4,0001.487Sterling Gelatin2,5000.938Geltech2,4000.899Figli di Guido Lapi2,4000.8910KCPL-Nitta2,0800.7711Sammi Gelatin2,0800.7712Norland5000.1813Lain-lain72,94027.07Total269,400100.00
Sumber : GME Organization (2001)

Berdasarkan data perusahaan di atas, perusahaan yang menempati urutan paling bawah berdasar kapasitas produksi yang terserap oleh pasar adalah Norland dengan kapasitas produksi sebesar 500 ton per tahun atau sebesar 0,18 % dari seluruh konsumsi gelatin dunia. Oleh karena itu, perusahaan gelatin yang dikaji ini dapat berproduksi disekitar kapasitas 0,18 % dari konsumsi gelatin dunia.

3. Pangsa Pasar
Pangsa pasar atau sales potensial adalah proporsi sebagian dari keseluruhan pasar potensial yang diharapkan dapat diraih oleh proyek yang bersangkutan (Husnan dan Suwarsono, 2000). Menurut Fellows et al. (1996), untuk kondisi persaingan dengan jumlah pesaing banyak dan ukuran pesaing yang cukup besar dan jenis produk yang dibuat sama maka kisaran persentase pangsa pasar yang dapat diraih antara 0-2,5 % dan untuk kondisi jumlah pesaing tidak ada sampai sebesar 100 %. Oleh karena itu, pangsa pasar dunia yang dapat diraih perusahaan sebesar 2,5 % dari konsumsi gelatin dunia atau sebesar 6.735 ton per tahun.

Pasar potensial gelatin Indonesia berdasarkan hasil prakiraan adalah sebesar 2.767.296 kg setiap tahunnya. Pasar potensial gelatin Indonesia tersebut jika dibandingkan dengan konsumsi gelatin dunia (269.400 ton) hanya sebesar 1,02 %. Sedangkan berdasar kajian struktur pasar di atas, perusahaan dapat berproduksi sekitar kapasitas 0,18 % dari konsumsi gelatin dunia atau sebesar 7,42 % dari pangsa pasar gelatin dunia atau 18,06 % dari pasar potensial gelatin di Indonesia.
Posisi perusahaan gelatin yang dikaji ini dalam struktur persaingan industri gelatin cukup aman sebagai pendatang baru dan mempunyai kemampuan untuk bertahan dan berkembang. Hal ini karena perusahaan hanya bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang menempati urutan bawah dan berproduksi dengan kapasitas sekitar 18,06 % dari pasar potensial di Indonesia. Selain itu, perusahaan gelatin yang dikaji ini mempunyai keunggulan dari sisi geografis, harga, relasi dan status kehalalan produk dibanding dengan perusahaan-perusahaan penghasil gelatin dari luar negeri.

4. Strategi Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran mencakup sejumlah variabel pemasaran yang terkontrol oleh perusahaan untuk mencapai target pasar yang telah ditetapkan dan memberikan kepuasan kepada konsumen (Husnan dan Suwarsono, 2000). Menurut Gitosudarmo (1997), bauran pemasaran adalah perpaduan dari tindakan-tindakan produk, harga, distribusi dan promosi dalam memasarkan produknya atau melayani konsumennya.

a. Strategi produk
Produk adalah sesuatu yang ditawarkan dan dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan konsumen. Bauran produk adalah daftar lengkap dari seluruh produk yang ditawarkan untuk dijual oleh perusahaan (Stanton, 1991). Produk gelatin merupakan produk industri. Menurut Kotler (2002), industri adalah sekelompok perusahaan yang menawarkan suatu produk atau kelas produk yang merupakan subtitusi dekat satu sama lain. Menurut Ichsan et al. (2003), salah satu karakteristik produksi modern dari suatu industri adalah adanya standardisasi.

Oleh karena pasar gelatin termasuk pasar industri maka konsep pemasaran yang diterapkan adalah strategi produk. Menurut Ichsan et al. (2003), strategi produk mengasumsikan bahwa calon konsumen dalam menetapkan produk yang dibeli menitikberatkan pada kualitas dan karakteristik produk tersebut. Menurut Kotler (2002), perusahaan-perusahaan yang menjual barang-barang dan jasa-jasa bisnis (industri) menghadapi para pembeli profesional yang terlatih dan terinformasi dengan baik dan yang terampil dalam menilai penawaran bersaing.

Gelatin dijual dalam pasar dengan berbagai nama dan nama dagang. Nama-nama tersebut berdasarkan jenis bahan baku dan proses gelatin yang dibuat (bovine gelatin, dried fish gelatin, type A gelatin dll.), jenis penggunaan gelatin (food-grade gelatin, edible gelatin, pharmacheutical gelatin dll.) atau perusahaan pembuat gelatin (Gelita-tec, Nitta 750, Norland Fish Gelatin dll.).

Karena perusahaan akan menghadapi pembeli profesional maka produk yang dibuat harus memiliki keunggulan dibanding produk yang dibuat oleh perusahaan lain atau keunggulan dibanding dengan produk lain yang mempunyai fungsi sama. Keunggulan produk yang dapat dimunculkan adalah status kehalalan dan keamanan gelatin selain pemenuhan kriteria lain seperti sesuai standar SNI dan standar penggunaan gelatin dalam berbagai industri. Keunggulan lainnya adalah variasi kegunaan gelatin yang cukup luas dalam aplikasi industri.

Salah satu keunggulan gelatin yang dibuat oleh perusahaan yang dikaji ini adalah kejelasan status kehalalan gelatin. Gelatin tersebut halal karena menggunakan bahan baku kulit split sapi. Mayoritas penduduk Indonesia yang muslim membuat status kehalalan produk gelatin yang dihasilkan menjadi mutlak. Menurut GME Organization (2001), gelatin yang menggunakan bahan baku dari kulit babi menempati persentase terbesar dari konsumsi gelatin dunia yaitu sebesar 40,98 %. Hal tersebut menjadikan produk gelatin ini mampu bersaing dibandingkan dengan produk gelatin yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan gelatin di luar negeri. Persentase produksi gelatin berdasar bahan baku dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Persentase Produksi Gelatin Berdasar Bahan Baku
Jenis Bahan BakuProduksi (ton)PersentaseKulit babi110,40040.98%Kuli sapi77,20028.66%Tulang80,80029.99%Lainnya1,0000.37%Total269,400100.00%
Sumber : GME Organization (2001)

Keunggulan lain dari gelatin yang diproduksi oleh perusahaan yang dikaji ini adalah keamanan gelatin dari infeksi BSE (bovine spongiform encephalopathy) atau TSE (transmissible spongiform encephalopathy) dan bahan lain yang berbahaya. Keamanan gelatin tersebut karena bahan baku yang digunakan berasal dari kulit split dalam negeri. Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian (2003), Indonesia masih tergolong negara yang terbebas dari penyakit mulut dan kuku. Menurut Goossens (2002), keamanan gelatin tergantung dari tiga faktor yaitu asal bahan baku, regulasi terhadap bahan baku dan proses produksi dan pengurangan serta inaktivasi TSE pada proses produksi.

Keunggulan gelatin dibanding dengan produk yang mempunyai fungsi sama adalah variasi kegunaan gelatin yang cukup luas dalam aplikasi industri. Hal ini membuat pasar gelatin menjadi luas. Menurut Rubin (2002), gelatin dapat bersaing dengan beberapa zat aditif bahan pangan dan gelatin mempunyai beberapa keunggulan spesifik. Dua keunggulan yang utama adalah elastisitas formulasi karena bersifat thermoreversible dan mampu meleleh pada suhu tubuh. Keunggulan lain dari gelatin adalah mudah digunakan dalam berbagai variasi standar terutama kombinasi kekuatan gel (bloom) dan viskositasnya, transparan, tidak berbau, tidak ada efek terhadap rasa dari produk akhir, memungkinkan untuk tersedia dalam jumlah yang memadai untuk industri, relatif tidak mahal dan cocok dengan karakteristik dari banyak jenis obat-obatan dan suplemen nutrisi.

Selain itu, gelatin mempunyai beberapa karakteristik seperti penyatuan antara udara dan busa, stabilisasi busa, stabilisasi emulsi/pencegahan pemisahan zat/stabilisasi pemisahan lemak, meningkatkan flow properties, pengontrolan pembentukan kristal, pembuatan film atau pelapisan, pelembut tekstur, pengganti lemak, pengikat air, meningkatkan cita rasa pada mulut, thickening dan meningkatkan adesi. Aplikasi dan fungsi gelatin dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Aplikasi dan Fungsi Gelatin
JenisAplikasiFungsiPanganIndustri rotiGelling, stabilizer, emulsifierIndustri permenChewiness, pelembut tekstur, stabilizer busaMakanan rendah lemakReduksi lemak, penambah citarasa, creaminess, spreadabilityProduk dagingPengikat kohesi airIndustri susuPencegah penggumpalan susu, stabilizer, meningkatkan teksturFarmasiKapsul kerasBahan baku film/gel kapsulKapsul lunakBahan baku film/gel kapsul Penyebaran plasma Pengikat air, pembentuk koloidIndustri kemasanBahan filmPerawatan lukaPelembab, bahan perawatan bekas lukaPotograpiBahan pembantu sistem silver halideMicro encapsulationVitamin/zat aditifEnkapsulasi untuk melindungi dari cahaya dan oksigenKosmetikPengemasanKapsul gel lunakTeknikPaintballKapsul gel lunak yang dapat membelah ketika terjadi tumbukanPlat elektrikUniformity of coating deposition, kontrol viskositasMicro encapsulationKoaservatif Microencapsulasi dari pencelupan bahan
pembawa Fragrance
Sumber : Rubin (2002)

Gambar 8. Produk dan Kemasan Gelatin

Bentuk akhir dari gelatin yang diproduksi adalah flake, berbentuk lembar tipis dengan ukuran kecil dan transparan. Kemasan gelatin terbuat dari plastik polypropilen tebal dengan beberapa variasi kapasitas untuk pembeli yang berbeda.

b. Strategi harga
Harga adalah jumlah uang yang diminta untuk barang atau jasa tertentu. Harga dapat pula dikatakan sebagai jumlah nilai yang dipertukarkan para konsumen untuk mencapai manfaat penggunaan barang-barang atau jasa-jasa. Harga sangat berhubungan dengan produk dan kualitas (Winardi, 1991). Harga merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan. Suatu perusahaan harus menetapkan harga untuk pertama kali ketika perusahaan tersebut mengembangkan produk baru. Perusahaan harus memutuskan dimana akan memposisikan produknya berdasarkan mutu dan harga (Kotler, 2002).

Alasan yang mempengaruhi penetapan harga gelatin adalah karakteristik gelatin sebagai produk industri, struktur pasar persaingan murni yang berlaku, keunggulan kompetitif kehalalan dan keselamatan produk gelatin dibanding dengan produk dari luar negeri, serta karakteristik biaya dan harga dari industri gelatin. Sebagai produk industri, gelatin telah terstandardisasi (Ichsan et al., 2003), pembeli gelatin adalah pembeli profesional yang terlatih dan terinformasi dengan baik dan yang terampil dalam menilai penawaran bersaing, permintaan total tidak tidak terlalu dipengaruhi oleh perubahan harga (Kotler, 2002), harga merupakan harga tetap, jarang terjadi tawar-menawar, penjual tidak akan meminta harga lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang berlaku dan harga tidak mudah berubah (Winardi, 1991).

Karakteristik biaya dan harga gelatin dilihat dari analisa sensitivitas adalah NPV masih positif, IRR masih di atas suku bunga yang berlaku dan Net B/C masih diatas satu walaupun harga bahan baku dan bahan pembantu naik sampai 493 %. Selain itu ukuran-ukuran tersebut masih layak jika harga diturunkan sampai 10,76 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa industri gelatin ini lebih peka terhadap perubahan harga jual dan kapasitas penjualan dibandingkan dengan perubahan harga bahan baku. Menurut Winarto (1991), makin besar persamaan produk suatu peusahaan dan produk pihak saingannya, makin tergantung perusahaan itu pada harga.

Oleh karena itu stategi penetapan harga yang dipakai adalah penetapan harga sesuai dengan harga berlaku. Menurut Kotler (2002), harga yang berlaku dianggap mencerminkan kebijakan bersama industri sebagai harga yang akan menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang layak dan tidak membahayakan keselarasan industri.
Laju inflasi rata-rata Indonesia periode Mei 2003 sampai April 2004 sdalah sebesar 5,75 % (Bank Indonesia, 2004). Laju inflasi tersebut dapat menyebabkan kenaikan biaya operasional dan kenaikan harga gelatin di dalam pasar. Oleh karena itu harga gelatin diasumsikan mengalami kenaikan sebesar 11,5 % setiap dua tahun.
Harga gelatin pada pasar dunia pada tahun 2002 berkisar Rp. 43.000,00 sampai 153.000,00 (Rubin, 2002) atau sekitar Rp. 49.800,00 sampai 162.000,00 pada tahun 2004. Di Indonesia harga gelatin berkisar Rp. 40.000,00 sampai Rp. 85.000,00 (PT. Megasetia Agung kimia, 2004). Harga gelatin bervariasi sesuai standar karakteristik dan jenis gelatin berdasarkan aplikasinya. Karakteristik gelatin yang sering dipakai sebagai standar harga adalah nilai bloom (kekuatan gel). Makin tinggi kekuatan gel gelatin maka makin mahal harga gelatin tersebut. Kisaran harga gelatin terendah berdasar aplikasinya adalah gelatin pangan, kemudian kosmetik, farmasi dan paling tinggi adalah gelatin fotografi. Selain itu harga gelatin menjadi sangat tinggi untuk penggunaan-penggunaan tertentu yang membutuhkan kemurnian gelatin yang tinggi atau spesifikasi khusus seperti untuk keperluan penelitian. Harga gelatin untuk keperluan tersebut berkisar Rp. 230.000,00 sampai Rp. 1.087.000,00 per kg.
Harga gelatin ditetapkan berdasarkan harga jual yang berlaku di pasar dan ditetapkan berdasarkan kekuatan gel dan penggunaan khusus. Harga gelatin yang ditetapkan berkisar Rp. 40.824,00 sampai Rp. 229.897,44. Harga gelatin dan proyeksi penjualan dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Harga Gelatin dan Proyeksi Penjualan
Jenis GelatinProyeksi Penjualan/TahunHarga/kg (Rp)(Kg)(%)Gelatin bloom 125158,1523640,824.00Gelatin bloom 150105,4352445,684.00Gelatin bloom 20087,0192068,040.00Gelatin bloom 25058,0131385,883.14Gelatin murni/khusus26,0826229,897.44Total434,700100

c. Strategi distribusi
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses menjadikan produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Saluran level nol (juga disebut saluran pemasaran langsung) terdiri dari perusahaan yang langsung menjual kepada pelanggan akhir (Kotler, 2002).

Sebagai produk industri, konsumen gelatin sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan yang menggunakan gelatin sebagai bahan baku atau bahan pembantu. Menurut Kotler (2002), beberapa ciri pasar industri yang berkaitan dengan strategi distribusi adalah perusahaan pembeli yang jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan konsumen barang konsumsi, jumlah pembelian yang relatif besar, hubungan pemasok dan pelanggan yang erat, pembeli yang terkonsentrasi secara geografis dan pembeli yang profesional.

Berdasarkan ciri gelatin sebagai produk industri tersebut maka saluran distribusi yang paling efektif adalah saluran level nol atau saluran pemasaran langsung. Perusahaan gelatin langsung menjual produknya ke perusahaan konsumen yang membutuhkan. Strategi ini mengharuskan perusahaan mempunyai data yang akurat mengenai perusahaan-perusahaan yang potensial menggunakan gelatin beserta jumlah permintaannya.

d. Strategi promosi
Konsep promosi diambil dengan tujuan agar para calon konsumen mengenal dan mengerti produk yang dihasilkan perusahaan (Ichsan et al., 2003). Pembeli profesional menghabiskan waktu kehidupan profesional mereka dengan mempelajari bagaimana melakukan pembelian yang lebih baik. Hal ini berarti pemasar bisnis/industri harus menyediakan data teknis yang lebih banyak tentang produk mereka serta keunggulannya atas produk pesaing. Pemasar bisnis sekarang menempatkan produk, harga dan informasi lain ke internet (Kotler, 2002).

Sesuai dengan gelatin sebagai produk industri, promosi yang dilakukan difokuskan pada sarana-sarana yang mencakup segmen yang lebih khusus seperti industri, kalangan peneliti (laboratorium) dan toko toko kimia. Sarana–sarana tersebut berupa situs internet, katalog industri, katalog bahan kimia, Yellow Page untuk industri, dan pengiriman tenaga pemasar ke perusahaan-perusahaan yang potensial menggunakan gelatin.

B. ASPEK TEKNIS TEKNOLOGIS
Kajian aspek teknis teknologis meliputi penentuan bahan baku, lokasi perusahaan, penentuan kapasitas produksi, penentuan teknologi proses dan tata letak pabrik. Dalam melakukan kajian teknis teknologis, akurasi kelayakan perusahaan bergantung dari akurasi masing-masing kajian.

1. Bahan Baku
Kesempurnaan estimasi biaya didapat dengan mengidentifikasi produk yang akan diproduksi, bahan baku dan utilitas yang diperlukan (Ulrich, 1991). Gelatin dapat dibuat dari kulit babi, kulit sapi, tulang sapi (Hinterwaldner, 1977), kulit split (Goossens, 2002), ikan (Rubin, 2002), tulang dan kulit ikan cucut (Indrialaksmi, 2000), tulang ayam (Septryansyah, 2000) dan tulang domba (Siringiringi, 2000).
Beberapa alasan dipilihnya kulit split sebagai bahan baku gelatin dapat dilihat dari sisi ketersediaan, harga, persentase rendemen dan kualitas gelatin yang dihasilkan.

a. Ketersediaan bahan baku
Kulit split sering disebut sebagai kulit sapi bahan kerupuk. Selain itu kulit split juga sering disebut sabagai kulit limbah hasil proses pemotongan pada penyamakan. Berdasarkan data BPS (2001), jumlah produksi kulit sapi bahan kerupuk (kulit split) sebesar 3.657 ton pada tahun 1999. Jumlah kulit split dapat melebihi dari angka tersebut karena jumlah kulit limbah hasil proses pemotongan pada penyamakan ada yang tidak dimasukkan ke dalam jumlah kulit sapi bahan kerupuk.

Jumlah kulit split yang tersedia tersebut mencukupi kebutuhan industri gelatin. Kebutuhan industri gelatin setiap tahunnya sebesar 1.343 ton atau sebesar 36,73 % dari ketersedian bahan baku kulit split.

b. Harga
Harga bahan baku kulit split sisa industri penyamakan berkisar Rp. 3.000 per kg (PT Muhara, 2004).

c. Persentase rendemen
Menurut Arthadana (2001), rendemen gelatin tipe A dari kulit sapi split berkisar antara 26–41%. Sedangkan menurut Cristianto (2001), rendemen gelatin tipe B dari kulit sapi split berkisar 24–59%. Sedangkan rendemen gelatin dari kulit kering (dried hides) sebesar 50–55% (Keenan, 1994). Rendemen gelatin dari kulit sapi split lebih rendah dibandingkan dengan gelatin dari kulit kering (dried hides) karena kadar air dari kulit split sekitar 61 % (Arthadana, 2001), sedangkan kadar air dried hides sebesar 10–15 % (Keenan, 1994).

d. Kualitas gelatin
Spesifikasi gelatin komersial yang terpenting adalah kekuatan gel (bloom) dan kandungan logam. Kekuatan gel gelatin dari kulit sapi split yang diproses secara sederhana sampai 308 g bloom (Arthadana, 2001). Kandungan logam gelatin berbahan baku kulit sapi split masih sesuai standar yang diperbolehkan, selengkapnya dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Kandungan Logam Gelatin Berbahan Baku Kulit Split
Jenis LogamSatuanTipe ATipe BStandarCd*mg/kg-0,37< 50
Cr*mg/kg1,441,55Pb*mg/kg--Hg*mg/kg--Znmg/kg8,3118,50< 100Cumg/kg5,7620,13< 30Asmg/kg--< 2Sulfitmg/kg21,649,07< 1000
Sumber : Risnandar (2002)

2. Lokasi Perusahaan
Jenis perusahaan industri lokasi perusahaannya umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi. Faktor-faktor ekonomi tersebut meliputi dekat dengan bahan baku, dekat dengan pasar, kedekatan dengan pemasok tenaga kerja, kemudahan transportasi dan tersedianya utilitas seperti listrik dan air (Sumarni dan Soeprihanto, 1993).
Lokasi pabrik gelatin telah ditetapkan oleh calon investor yaitu pemilik saham PT. SXYZ Indonesia. Lokasi yang telah ditetapkan tersebut berada di dalam wilayah pabrik kulit PT. XYZ Indonesia yang telah lama berdiri di Kabupaten XYZ. Ada beberapa keunggulan calon investor menetapkan lokasi perusahaan di lokasi pabrik kulit tersebut. Keunggulan tersebut dapat dilihat dari sisi perizinan, kedekatan dengan bahan baku, kedekatan dengan pasar, kedekatan dengan pemasok tenaga kerja, kemudahan transportasi dan tersedianya utilitas.

Dilihat dari sisi perizinan, perusahaan hanya perlu mengurus Izin Perluasan tanpa perlu mengurus Izin Usaha Industri (IUI). Izin Perluasan tersebut dilakukan tanpa melalui tahap Persetujuan Prinsip karena berada dalam kawasan berikat (Deperindag, 2004).

Lokasi yang telah ada menguntungkan dari sisi bahan baku karena lebih dari 80 % perusahaan penyamakan kulit berada di pulau Jawa khususnya di Jawa Barat dan di Jawa Timur (Depperindag, 2004). Selain itu, lokasi yang telah ditetapkan tersebut berada di daerah yang dekat dengan beberapa kawasan industri.

Kabupaten XYZ disiapkan untuk pengembangan kota orde kedua di wilayah utara Jawa Barat. Tren pembangunan industri yang cukup pesat membuat pertumbuhan ekonomi Kabupaten XYZ banyak dipengaruhi oleh sektor industri. Hal tersebut tak lepas dari dampak positif pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek oleh Departemen Pekerjaan Umum. Pemda Kabupaten XYZ menyediakan alternatif penyediaan air baku dan kelistrikan dengan pembangunan waduk Cipunegara, Telagaherang, Pangkalan dan Maya Bodas selain kemampuan sumberdaya waduk Jatiluhur yang masih mencukupi. Pemanfaatan air oleh masyarakat terhadap waduk Jatiluhur baru 6 milyar m3 dari 7 milyar m3 air yang tersedia. Diantaranya, 80 % air dimanfaatkan untuk kepentingan irigasi pertanian yaitu sebanyak 5,3 miliar m3 dan sisanya sebesar 0,7 milyar m3 untuk dijual secara komersial kepada PAM, PDAM serta industri. Pihak Pemda Kabupaten XYZ telah menyiapkan lahan seluas 1.600 hektar untuk pemukiman. Selain itu, Pemda Kabupaten XYZ juga akan menggalakkan pembangunan rumah-rumah sewa di sekitar kawasan industri (Departemen Pekerjaan Umum, 1997).

3. Kapasitas Produksi
Luas produksi atau kapasitas produksi adalah jumlah atau volume produk yang seharusnya dibuat oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu (Sumarni, 1993). Kapasitas produksi gelatin ditetapkan berdasar informasi pasar potensial dan pangsa pasar yang masih dapat diraih perusahaan.

Pasar potensial gelatin Indonesia berdasarkan hasil prakiraan adalah sebesar 2.767.296 kg setiap tahunnya. Sedangkan berdasar kajian derajat persaingan pasar, perusahaan dapat berproduksi sekitar kapasitas 0,18 % dari konsumsi gelatin dunia atau sebesar 7,42 % dari pangsa pasar gelatin dunia atau 18,06 % dari pasar potensial gelatin di Indonesia atau sebesar sekitar 500 ton per tahun.

Penentuan kapasitas produksi selain mengacu pada hasil prakiraan potensi pasar, pangsa pasar dan derajat persaingan pasar juga ditentukan oleh teknologi proses dan mesin yang dipilih. Industri gelatin yang dikaji ini menggunakan teknologi proses pembuatan gelatin dengan perendaman asam. Mesin-mesin yang digunakan, khususnya sistem evaporasi dan sistem pengeringan, menggunakan mesin-mesin yang telah dipakai oleh beberapa perusahaan gelatin seperti perusahaan Kathabar System Europe dan GEA Wiegand. Setelah melalui perhitungan neraca massa dengan mempertimbangkan kapasitas mesin-mesin tersebut maka kapasitas produksi pabrik gelatin ditetapkan sebesar 434.560 kg per tahun atau sebesar 1.449 kg per hari.

Karena perusahaan gelatin ini termasuk pemain baru dalam industri gelatin, maka untuk tahun pertama dan kedua belum bisa berproduksi secara penuh. Pada tahun pertama, perusahaan hanya berproduksi sebesar 80 % dari kapasitas produksi penuh. Sedangkan pada tahun kedua, perusahaan meningkatkan produksinya menjadi 90 % dari kapasitas penuh. Untuk tahun ketiga sampai tahun kesepuluh, perusahaan sudah dapat berproduksi secara penuh.

4. Teknologi Proses
Proses produksi gelatin dilakukan secara kontinu dengan menggunakan mesin dan peralatan yang dipasang secara berurutan dari pengolahan bahan baku sampai menjadi produk jadi. Menurut Sumarni (1993), ada dua jenis proses produksi yaitu proses produksi terus-menerus (continuous) dan proses produksi yang terputus-putus (intermitten). Proses produksi kontinu ditandai dengan aliran bahan baku yang selalu tetap atau mempunyai pola yang selalu sama sampai produk selesai dikerjakan.
Kulit split dapat dibuat menjadi gelatin tipe A dengan proses asam dan tipe B dengan proses basa (Risnandar, 2002). Gelatin berbahan baku kulit split dari pabrik yang dikaji ini diproduksi dengan proses asam. Alasan dipilihnya proses asam karena menurut Risnandar (2002), kekuatan gel gelatin tipe A dari kulit split antara 198-304 g bloom, sedangkan menurut Cristianto (2001), kekuatan gel gelatin tipe B dari kulit split antara 114-164 g bloom.

Proses produksi gelatin terdiri dari pencucian kulit split, pengeringan kulit split, pemotongan kulit split, perendaman asam, netralisasi, ekstraksi bertahap, filtrasi, pemekatan dengan evaporator, sterilisasi, pengeringan dan penghancuran.
Pertama kali diterima, dilakukan analisis proximat terhadap bahan baku terutama kadar air, kadar lemak, kadar abu dan kadar Nitrogen. Bahan baku kulit split dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran menggunakan air. Selanjutnya, kulit split basah hasil pencucian dikeringkan secara alami di udara terbuka sampai seperti kondisi semula. Kulit split tersebut lalu dipotong dengan ukuran 2-4 cm2 dan dimasukkan ke dalam tangki perendaman. Perendaman dalam larutan HCL 1 % dilakukan selama 10-24 jam sampai pH lebih besar dari 1,5.

Kulit setelah perendaman kemudian dicuci menggunakan air sampai pH kulit split antara 5-6. Setelah itu kulit split diekstraksi empat tahap yaitu tahap I dengan suhu 55-65 0C, tahap II dengan suhu 65-75 0C, tahap III dengan suhu 75-85 0C dan tahap IV dengan suhu 85-95 0C dengan waktu masing-masing antara 4-9 jam.
Gelatin hasil ekstraksi tersebut kemudian difiltrasi untuk menghilangkan partikel yang lebih besar, koloid, bakteri dan kotoran-kotoran lain. Selanjutnya dilakukan pemekatan dengan evaporator. Gelatin yang dihasilkan mempunyai kadar air berkisar 30-40%. Gelatin tersebut kemudian disterilisasi dengan suhu 140-142 0C selama 4 detik. Sterilisasi ini dilakukan untuk mengurangi kandungan mikrobial dari gelatin. Hasil setrilisasi tersebut didinginkan dan diekstrusi sehingga dihasilkan gelatin yang berbentuk noodle. Gelatin dengan kadar air berkisar 30-40 % ini kemudian dikeringkan sampai kadar airnya sekitar 12 % dan dihancurkan sampai didapatkan bentuk yang diinginkan. Alur proses pembuatan gelatin tipe A dari kulit split dapat dilihat pada gambar 9.

Neraca massa tidak lebih dari penghitungan aliran massa dan perubahannya di dalam perlengkapan penampung atau pengolah massa tersebut didalam sistem (Himmelblau, 1996). Neraca massa dibuat untuk menghitung jumlah bahan baku, bahan pembantu dan produk akhir yang dihasilkan dalam satu kali ukuran proses. Untuk memudahkan perhitungan neraca massa diperlukan tabulasi aliran masuk dan keluar bahan yang dapat dilihat pada lampiran 1. Neraca massa proses produksi gelatin berbahan baku kulit split dapat dilihat pada gambar 10.

Untuk menghitung kebutuhan energi berupa bahan bakar, steam atau listrik kita perlu menghitung kebutuhan energi atau neraca energi dari proses produksi yang berlangsung. Menurut Himmelblau (1996), neraca energi berkisar dari menjawab pertanyaan seperti “Bahan bakar apa yang paling ekonomis?”, “Apa yang dapat diperbuat terhadap kelebihan panas yang dihasilkan?”, “Berapa banyak steam dan pada temperatur dan tekanan berapa yang dibutuhkan untuk menghasilkan panas pada proses?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan.

Pada pembuatan neraca energi diperlukan data mengenai mesin yang digunakan, proses yang terjadi, kondisi proses seperti suhu dan tekanan dan energi yang dikonsumsi berdasarkan lamanya mesin tersebut beroperasi. Tabulasi perhitungan neraca energi dapat dilihat pada lampiran 2 dan neraca energi dapat dilihat pada gambar 11.
Hasil perhitungan neraca massa dan neraca energi digunakan untuk menghitung analisis finansial sedangkan spesifikasi peralatan dan mesin (khususnya ukuran dimensi) digunakan untuk menentukan luasan ruang proses produksi. Kebutuhan bahan baku dan energi dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12. Kebutuhan Bahan Baku dan Energi pada Proses Produksi
NoKomponenJumlah PenggunaanSatuanJumlah PenggunaanSatuan1Kulit Split4,478kg/hari111,940kg/Bulan2HCl 38%175kg/hari4,375kg/Bulan3Steam536hp/hari13,402kg/Bulan4Listrik23,976kWh/hari599,390kWh/Bulan5Air35,644kg/hari891,104kg/Bulan

5. Tata letak pabrik
Tataletak pabrik disusun berdasarkan urutan-urutan tertentu. Urutan tersebut meliputi merancang proses produksi, merancang aliran bahan, membuat bagan keterkaitan aktivitas, diagram keterkaitan kegiatan dan membuat pengalokasian wilayah (Apple, 1990). Tipe-tipe tata letak produksi meliputi tata letak produk atau garis, tata letak proses atau fungsional dan tata letak posisi tetap. Tata letak produk merupakan pengaturan fasilitas produksi secara berurutan sesuai dengan jalannya proses produk sejak dari bahan mentah sampai dengan produk selesai diproses. Jenis tata letak ini biasanya untuk membuat produk secara masal, terus-menerus dan produk yang dihasilkan mempunyai standar tertentu (Sumarni, 1993). Oleh karena itu tata letak industri gelatin termasuk tata letak produk.

Dengan mengacu pada alur proses pembuatan gelatin, tata letak dapat dibuat pertama kali dengan menentukan bagan keterkaitan aktivitas atau peta keterkaitan kegiatan untuk menempatkan lokasi ruang-ruang yang berkaitan dengan operasi produksi. Bagan keterkaitan aktivitas dapat dilihat pada gambar 12.

Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan keterkaitan kegiatan diantaranya adalah sifat atau karakteristik bangunan, tapak bangunan, fasilitas luar dan kemungkinan perluasan (Apple, 1990). Untuk membantu menentukan kegiatan yang harus diletakkan pada satu tempat, telah ditetapkan satu pengelompokan derajat kedekatan dengan simbol A, E, I, U dan X dengan alasan-alasan yang telah didefinisikan.

Selanjutnya informasi yang ada pada bagan keterkaitan aktivitas dituangkan pada diagram keterkaitan kegiatan. Menurut Apple (1990), tujuan dari diagram keterkaitan kegiatan adalah menjadi dasar perencanaan keterkaitan antar pola aliran barang dan lokasi kegiatan pelayanan dihubungkan dengan kegiatan produksi. Keterkaitan kegiatan dapat dilihat pada gambar 13.

Langkah selanjutnya adalah menentukan analisis kebutuhan luasan ruang yang diperlukan. Penentuan kebutuhan luasan ruang memerlukan data mengenai mesin dan alat produksi serta jumlah ruangan yang dibutuhkan. Salah satu cara menentukan luasan ruangan adalah dengan menghitung perkiraan ruangan yang dibutuhkan bagi tiap-tiap mesin dan peralatan pabrik.

Setelah diagram keterkaitan aktivitas, diagram keterkaitan kegiatan dan analisis kebutuhan luasan ruang dibuat, wilayah pabrik dialokasikan dengan cara menyusun templet luasan ruangan. Beberapa hal yang dipertimbangkan adalah jalur produksi, koordinasi tempat kerja, kemungkinan perluasan, keluwesan letak ruangan, kebutuhan gang, jarak antar alat dan mesin dan jarak aman antar bangunan. Menurut Apple (1990), prosedur ini mungkin membutuhkan kompromi dan perubahan dalam bangun wilayah atau ukurannya dan mungkin tidak memenuhi sepenuhnya prioritas diagram keterkaitan kegiatan. Kebutuhan ruang produksi dan pengalokasian wilayah ruang dapat dilihat pada tabel 13. Gambar alokasi ruangan dapat dilihat pada gambar 14.


Tabel 13. Kebutuhan Ruang Produksi dan Alokasi Wilayah
Nama RuangJml mesinLuas (m2)Alokasi WilayahPanjang (m)Lebar (m)Total (m2)Ruang Penyimpanan Bahan baku Kulit-641.2533.7528.5961.875Penerimaan dan Gudang Bahan lain-641.2533.7528.5961.875Tangki dan Pengolahan Air124.0022.522.5506.25Ruang Pencucian29.0033.7522.5759.375Ruang Pengering Kulit32107.6256.25452531.25Ruang Pemotongan Kulit226.2733.7522.5759.375Ruang Pencampuran HCl326.4322.522.5506.25Ruang Perendaman414.2433.7522.5759.375Ruang Netralisasi/Pencucian244.1633.7522.5759.375Ruang Ekstraksi8118.9456.2522.51265.625Ruang Filtrasi25.5637.537.51406.25Ruang Evaporasi dan Sterilisasi132.0037.537.51406.25Ruang Pengeringan dan Penghancuran212.0037.522.5843.75Ruang Pengemasan211.0437.522.5843.75Ruang Penyimpanan Produk-675.004522.51012.5Ruang Pengolahan Limbah1562.5037.522.5843.75Ruang Pembangkit Tenaga1937.5037.537.51406.25

Alokasi wilayah ruang produksi jauh melebihi kebutuhan luasan mesin dan alat sebenarnya. Hal ini karena bangunan proses produksi yang akan dibuat diharapkan mempunyai luasan optimum untuk perkembangan. Luas tanah yang tersedia untuk bangunan proses produksi memiliki panjang 160 m dan lebar 100 m. Alokasi area tidak dianalisis karena pabrik yang telah ada telah mempunyai fasilitas seperti lapangan parkir, kantor, sarana ibadah, kantin dan lainnya.

C. ASPEK MANAJEMEN DAN ORGANISASI
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), aspek manajemen dalam operasi mengkaji jenis-jenis pekerjaan yang diperlukan, persyaratan yang diperlukan untuk memegang jabatan-jabatan tertentu, dan struktur organisasi perusahaan.

1. Kebutuhan Tenaga Kerja
Penjalanan perusahaan gelatin memerlukan tenaga kerja yang terdiri dari tenaga kerja langsung dan tak langsung. Mesin dan peralatan pada proses produksi memerlukan tenaga kerja langsung yang mengoperasikannya. Sedangkan tenaga tak langsung menjalankan fungsi-fungsi yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. Tenaga kerja langsung, berdasarkan jabatannya, meliputi pekerja (39 orang), operator (15 orang) dan supervisor (9 orang). Masing-masing mempunyai deskripsi tugas yang berbeda. Tabulasi tenaga kerja langsung dapat dilihat pada tabel 14.
Tenaga kerja tak langsung terdiri dari presiden direktur, direktur, manajer, administratif dan keamanan. Kualifikasi tenaga kerja dan jabatan dapat dilihat pada tabel 15.

2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merujuk kepada cara dimana kegiatan-kegiatan sebuah organisasi dibagi, diorganisasikan dan dikoordinasi (Stoner dan Freeman, 1994). Jenis organisasi terdiri dari organisasi lini, staf, lini-staf dan fungsional. Organisasi fungsional adalah bentuk organisasi yang susunannya berdasarkan atas fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi tersebut. Seorang karyawan tidak hanya bertanggungjawab kepada satu orang atasan saja. Pimpinan berwenang pada satuan-satuan organisasi dibawahnya di dalam bidang pekerjaan tertentu. Kebaikan struktur organisasi ini adalah kemungkinan adanya spesialiasi, mudah untuk mengisi setiap jabatan dan memberikan pengawasan yang efektif kepada karyawan (Sumarni, 1993).

Tabel 14. Tabulasi Tenaga Kerja Langsung
Proses Produksi/RuangJabatanJumlahPekerjaOperatorSupervisorPencucian Kulit Split81110Pengeringan10-111Pemotongan2114Perendaman Asam415Netralisasi213Ekstraksi-213Filtrasi-11Evaporasi dan sterilisasi-213Pengeringan-22Pengemasan3115Penyimpanan produk2-2Penyimpanan bahan baku kulit 2-13Penerimaan dan gudang bahan lain2-2Pencampuran HCl1-12Pembangkit tenaga112Pengolahan air bersih1113Pengolahan limbah112Total3915963

Oleh karena hal di atas, perusahaan gelatin menggunakan jenis struktur organisasi fungsional. Struktur organisasi ini terdiri dari presiden direktur, lima orang direktur, sepuluh orang manajer, supervisor produksi, pekerja dan operator produksi dan administrasi, keamanan serta supir. Struktur organisasi dapat dilihat pada lampiran 5.

Tabel 15. Jabatan dan Kualifikasi Tenaga Kerja
NoJabatanKualifikasiJumlah1Presiden DirekturS2 Berpengalaman (min. 5 tahun)12Direktur PemasaranS2 Pemasaran (min. 5 tahun)13Direktur TeknikS2 Teknik (min. 5 tahun)14Direktur ProduksiS2 Kimia/Pangan (min.5 tahun )15Direktur HRDS1 Psikologi (min. 5 tahun)16Direktur KeuanganS2 Keuangan (min. 5 tahun)17Manajer PemasaranS1 Pemasaran (min. 2 tahun)18Manajer EksporS1 Pemasaran (min. 2 tahun)19Manajer PPICS1 Teknik Industri (min. 2 tahun)110Manajer MaintenanceS1 Teknik (min. 2 tahun)111Manajer ProduksiS1 Kimia/Pangan (min. 2 tahun)112Manajer R & DS1 Kimia/Pangan (min. 2 tahun)113Manajer SDMS1 Psikologi/Tekn. Industri (min. 2 tahun)114Manajer Keamanan dan KesraS1 Psikologi/Tekn. Industri (min. 2 tahun)115Manajer KeuanganS1 Keuangan (min. 2 tahun)116Manajer PembelianS1 Tekn. Industri/Keuangan (min. 2 Tahun)117Supervisor ProduksiS1 Kimia/Pangan918Operator ProduksiD3 Teknik, SMU/STM1519Administrasi D3/SMU1020KeamananSekolah Menengah821SupirSekolah Menengah422PekerjaSekolah Menengah39Total101

3. Deskripsi Tugas
Deskripsi tugas atau struktur organisasi selalu berkaitan dengan wewenang, delegasi dan tanggungjawab (Stoner, 1993). Ketiganya perlu untuk memastikan seluruh pekerjaan organisasi perusahaan dapat berjalan dengan semestinya dan bila terjadi kesalahan jelas siapa yang seharusnya bertanggungjawab. Deskripsi tugas dan tanggungjawab dari masing-masing jabatan perusahaan gelatin dijelaskan dibawah ini.

a. Presiden direktur, bertugas sebagai pelaksana kebijakan yang telah digariskan oleh pemegang saham. Presiden Direktur juga bertugas menjalin kerjasama dengan mitra bisnis, masyarakat dan pemerintah. Selain itu, presiden direktur bertanggungjawab terhadap keseluruhan pencapaian tujuan perusahaan dan terhadap keseluruhan orgnisasi perusahaan.
b. Direktur pemasaran, bertugas merencanakan strategi pemasaran dan menetapkan target penjualan dengan mempertimbangkan faktor persaingan, regulasi pemerintah dan keinginan konsumen. Direktur pemasaran bertanggungjawab terhadap pelaksanaan penjualan dalam negri dan ekspor.
c. Direktur teknik, bertugas mengembangkan teknik efisiensi produksi dan menjalankan fungsi penggantian mesin dan alat yang memakan biaya besar. Direktur teknik bertanggungjawab terhadap perencanaan produksi dan kontrol, pemeliharaan dan penyediaan mesin dan peralatan.
d. Direktur produksi, bertugas menetapkan target produksi tahunan dan kemungkinan pengembangan jumlah produksi. Direktur produksi bertanggungjawab terhadap pencapaian target produksi dan kualitas produk yang dihasilkan.
e. Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (HRD), bertugas merencanakan strategi dan menetapkan target peningkatan kualitas tenaga kerja. Direktur HRD bertanggungjawab terhadap pemenuhan tenaga kerja berkualitas, kesejahteraan karyawan dan keamanan keseluruhan pabrik.
f. Direktur keuangan, bertugas merencanakan strategi keuangan yang efektif, menentukan indikator dan posisi kesehatan perusahaan dari segi keuangan. Direktur keuangan bertanggungjawab terhadap pencatatan keuangan perusahaan, pengontrolan pos-pos pengeluaran perusahaan
g. Manajer pemasaran, bertugas mencapai target penjualan tahunan, memasarkan produk, promosi dan membuka target konsumen baru pada pasar dalam negeri.
h. Manajer ekspor, bertugas mencapai target penjualan tahunan, memasarkan produk, promosi dan membuka target konsumen baru pada pasar luar negeri.
i. Manajer Production Planning and Inventory Control (PPIC), bertugas merencanakan dan mengendalikan jadwal produksi, penyimpanan bahan baku dan produk jadi dan mencari serta menjalankan teknik kerja yang lebih efisien.
j. Manajer maintenance, bertugas melakukan pemeliharaan dan penyediaan mesin dan peralatan.
k. Manajer produksi, bertugas menjalankan produksi harian perusahaan.
l. Manajer Riset dan Pengembangan (R & D), bertugas mengembangkan produk baru yang lebih berkualitas dan mengontrol kualitas produksi.
m. Manajer sumber daya manusia (SDM), bertugas melakukan upaya peningkatan kualitas tenaga kerja, menyeleksi dan menerima tenaga kerja baru.
n. Manajer keamanan dan kesejahteraan, bertugas dan bertanggungjawab terhadap keamanan keseluruhan wilayah perusahaan dan kesejahteraan karyawan.
o. Manajer keuangan, bertugas melakukan pencatatan keuangan dan pengontrolan pos-pos pengeluaran perusahaan.
p. Manajer pembelian, bertanggungjawab melakukan pembelian bahan baku, bahan pendukung, mesin dan peralatan produksi.
q. Supervisor produksi, bertugas melakukan supervisi terhadap kinerja karyawan dan proses produksi.
r. Operator produksi, bertugas mengoperasikan mesin-mesin produksi.
s. Administrasi, bertugas menjalankan fungsi-fungsi administrasi seperti kesekretariatan, resepsioonis dan membantu tugas-tugas para manajer.
t. Keamanan, bertugas menjaga keamanan perusahaan.
u. Supir, bertugas mengemudikan kendaran perusahaan.
v. Pekerja, bertugas melakukan kerja-kerja manual pada proses produksi.

D. ASPEK LEGAL YURIDIS
Aspek legal yuridis yang dikaji antara lain bentuk usaha, prosedur perizinan dan perpajakan. Kajian aspek legal yuridis ini difokuskan hanya pada aspek perluasan usaha karena PT. XYZ Indonesia telah berdiri dengan usaha pengolahan leather. Perusahaan gelatin yang dibangun akan menjadi salah satu lini produksi dari PT. XYZ Indonesia.

1. Bentuk Usaha
Bentuk usaha dari perusahaan ini adalah Perseroan Terbatas (PT). Menurut Simatupang (2003), Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang dan peraturan pelaksanaannya.

Ada beberapa keuntungan maupun kerugian perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas. Menurut Sumarni (1993), keuntungan PT. adalah adanya tanggungjawab terbatas dari pemegang saham terhadap hutang-hutang perusahaan, mudah mendapat tambahan modal, kelangsungan hidup PT. lebih terjamin karena pemiliknya dapat berganti-ganti, terdapat efisiensi pengelolaan sumber dana dan efisiensi pimpinan.
Kerugian Perseroan Terbatas, menurut Sumarni (1993), adalah PT. merupakan subjek pajak tersendiri dan deviden yang diterima oleh pemegang saham dikenakan pajak lagi dan kurang terjaminnya rahasia perusahaan karena semua kegiatan perusahaan harus dilaporkan kepada pemegang saham.

2. Prosedur Perizinan
Industri gelatin termasuk jenis Industri Bahan Kimia dan Barang Kimia lainnya menurut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI) dengan kode KLUI 24299. Industri gelatin juga termasuk jenis industri dalam pembinaan Dirjen Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan yang pemberian izinnya dilimpahkan kepada Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Depperindag (Depperindag, 1999).

Izin bidang industri meliputi Izin Usaha Industri yang selanjutnya disebut IUI, Izin Perluasan dan Tanda Daftar Industri yang selanjutnya disebut TDI. (Deperindag, 2004). Perusahaan gelatin ini merupakan perluasan usaha dari PT. XYZ Indonesia yang bergerak dibidang pengolahan leather. Oleh karena itu hanya izin yang berkaitan dengan perluasan usaha yang akan dibahas. Berikut disajikan salinan Petunjuk Mengurus Izin dan Rekomendasi Sektor Industri dan Perdagangan, Depperindag (2004).
Setiap perusahaan industri yang telah memiliki Izin Usaha Industri (IUI), baik yang melalui tahap persetujuan prinsip maupun tanpa melalui persetujuan prinsip, yang hendak melakukan perluasan industrinya wajib memperoleh Izin Perluasan. Izin Perluasan tidak diperlukan apabila perluasan yang dilaksanakan masih dalam lingkup jenis industri yang tercantum dalam IUI-nya, penambahan kapasitas produksi sebesar-besarnya 30 % di atas kapasitas produksi yang diizinkan dan jenis industrinya terbuka bagi penanaman modal.

Perluasan lebih dari 30% dari kapasitas produksi yang telah diizinkan dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memiliki Izin Perluasan apabila perluasan yang dilaksanakan masih dalam lingkup jenis industri yang tercantum dalam IUI-nya, hasil produksinya dimaksudkan untuk pasaran ekspor, meskipun jenis industri tersebut dinyatakan tertutup bagi penanaman modal.

Kegiatan perluasan ini wajib diberitahukan secara tertulis selambat-lambatnya 6 bulan sejak dimulainya produksi kepada pejabat yang mengeluarkan IUI yang telah dimiliki perusahaan tersebut, guna disahkan melalui penerbitan Izin Perluasan.
Dasar hukum dari Izin Perluasan ini adalah Keputusan Menperindag nomor 589/MPP/Kep/10/1999 tanggal 13 Oktober 1999 dan Keputusan Menperindag Nomor 590/MPP/Kep/10/1999 tanggal 13 Oktober 1999.

IUI PT. XYZ Indonesia adalah jenis IUI tanpa melalui Tahap Persetujuan Prinsip sehingga syarat kelengkapan dokumen untuk Izin perluasan usahanya adalah termasuk jenis ke dua (memiliki IUI tanpa melalui Tahap Persetujuan Prinsip). Syarat kelengkapan dokumennya adalah mengisi formulir model SP-III, melampirkan isian formulir model SP-IV dan SP-V, melampirkan IUI, dan melampirkan rencana perluasan industri.

Izin Perluasan akan dikeluarkan dalam waktu 14 hari kerja setelah persyaratan lengkap dan benar diterima. Izin Perluasan berlaku selama perusahaan yang bersangkutan beroperasi. Izin Perluasan, baik yang melalui tahap persetujuan prinsip maupun tanpa melalui persetujuan prinsip, tidak dikenakan biaya. Pejabat yang mengeluarkan Izin Perluasan adalah sama dengan pejabat yang mengeluarkan IUI yang telah dimiliki perusahaan yang bersangkutan.

Perusahaan industri yang akan mendirikan pabrik baru, menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 tahun 1992, harus mengajukan izin Undang Undang gangguan (UUG/HO) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada Kepala Daerah setempat. UUG/HO juga diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kabupaten XYZ nomor 9 tahun 1995. Sedangkan IMB diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kabupaten XYZ nomor 10 tahun 1995.
Persyaratan yang harus dilengkapi oleh perusahaan industri ketika memohon IMB adalah :
1. Foto kopi izin lokasi.
2. Foto kopi Kartu Tanda Penduduk.
3. Foto kopi akte pendirian bagi perusahaan yang berbadan hukum/badan usaha atau foto kopi anggaran dasar yang sudah disahkan bagi koperasi.
4. Surat kuasa apabila penandatanganan permohonan bukan dilakukan oleh pemohon sendiri.
5. Foto kopi sertifikat atas tanah atau bukti perolehan hak atas tanah.
6. Foto kopi tanda lunas PBB terakhir.
7. Surat pernyataan pemohon tentang kesanggupan memenuhi persyaratan teknis bangunan sesuai dengan pedoman teknis yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum, garis sempadan koefisien dasar bangunan dan koefisien lantai dasar bangunan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.
8. Foto kopi rencana tata bangunan dan prasaran kawasan industri yang disetujui oleh Bupati Kabupaten XYZ dengan menunjukkan lokasi kapling untuk bangunan yang bersangkutan, bagi perusahaan industri yang berlokasi di kawasan industri.

Prosedur pembuatan IMB di Kabupaten XYZ adalah sebagai berikut :
1. Pengajuan tertulis dari pemohon disampaikan kepada Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten XYZ dilengkapi dengan persyaratan tersebut diatas.
2. Seksi Tata Bangunan membuat gambar situasi, menetapkan nomor bangunan, memberi tanda garis sempadan dan menetapkan bangunan. Berkas tersebut diserahkan kepada Kasubag Tata Usaha untuk diteliti dan diparaf.
3. Penelitian berkas oleh Seksi Perijinan Bangunan bila memenuhi syarat dibuatkan konsep IMB dan besarnya retribusi.
4. Kasubag Tata Usaha menyerahkan berkas kepada Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten XYZ, dikembalikan ke bagian Tata Usaha untuk diregister dan selanjutnya diserahkan kepada pemohon.

3. Perpajakan
Perseroan Terbatas (PT) merupakan salah satu subjek pajak penghasilan. Penentuan pajak penghasilan dilakukan berdasarkan Undang Undang Perpajakan nomor 17 tahun 2000. Besarnya pajak penghasilan yaitu untuk keuntungan di bawah Rp. 50 juta maka dikenakan pajak 10 % dari pendapatan; apabila pendapatan antara Rp. 50 juta sampai dengan 100 juta maka dikenakan pajak 10 % dari Rp. 50 juta ditambah 15 % dikali pendapatan yang telah dikurangi Rp. 50 juta; apabila pendapatan berada diatas Rp. 100 juta maka dikenakan pajak sebesar 10 % dikali Rp. 50 juta ditambah 15 % dikali Rp. 50 juta ditambah 30 % dari pendapatan yang telah dikurangi Rp. 100 juta.

E. ASPEK LINGKUNGAN

Ada dua hal yang dikaji dalam aspek lingkungan yaitu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan potensi limbah dari industri gelatin. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 17 tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, industri gelatin termasuk industri yang wajib dilengkapi AMDAL.

1. AMDAL
Menurut Suratmo (1998), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu analisis suatu proyek yang meliputi pekerjaan evaluasi dan pendugaan dampak proyek dan bangunannya, prosesnya maupun sistem dari proyek terhadap lingkungan yang berlanjut ke lingkungan hidup manusia. Menurut Asisten Departemen Kajian Dampak Lingkungan Departemen Lingkungan Hidup (2004), AMDAL terdiri dari empat dokumen yaitu Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL), Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).

a. KA-ANDAL
Dokumen KA-ANDAL disusun terlebih dahulu untuk menentukan lingkup studi dan mengidentifikasi isu-isu pokok yang harus diperhatikan dalam penyusunan ANDAL. Dokumen ini dinilai di hadapan Komisi Penilai AMDAL. Setelah disetujui isinya, kegiatan penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL barulah dapat dilaksanakan.
b. ANDAL
Dokumen ANDAL mengkaji seluruh dampak lingkungan hidup yang diperkirakan akan terjadi, sesuai dengan lingkup yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL.
c. RKL dan RPL
Rekomendasi pengelolaan lingkungan dan rekomendasi pemantauan lingkungan digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak yang telah dievaluasi dalam dokumen ANDAL disusun dalam dokumen RKL dan RPL.
Keempat dokumen tersebut diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Hasil penilaian inilah yang menentukan apakah rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut layak secara lingkungan atau tidak, dan apakah perlu direkomendasikan untuk diberi ijin atau tidak.
Dalam penyusunan studi AMDAL, perusahaan dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL diharapkan telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL (lulus kursus AMDAL B) dan ahli di bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur dalam HYPERLINK "http://www.menlh.go.id/publik/peraturan/kepka/kepka0900/kepka0900.html" Keputusan Kepala Bapedal Nomor 9 tahun 2000 . Berbagai pedoman penyusunan yang lebih rinci dan spesifik menurut tipe kegiatan maupun ekosistem yang berlaku juga diatur dalam berbagai HYPERLINK "http://www.menlh.go.id/amdalnet/peraturan.htm" Keputusan Kepala Bapedal .
Prosedur AMDAL di Indonesia terdiri dari proses penapisan (screening) wajib AMDAL, proses pengumuman dan konsultasi masyarakat, penyusunan dan penilaian KA-ANDAL, penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL.
Proses penapisan atau proses seleksi wajib AMDAL yaitu proses menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak. Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat didasarkan pada HYPERLINK "http://www.menlh.go.id/publik/peraturan/kepka/kepka0800/kepka0800.html" Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 8 tahun 2000 . Perusahaan wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.
Setelah dokumen KA-ANDAL selesai disusun, perusahaan dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari diluar waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.
Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL). Setelah selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari diluar waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.
2. Potensi Limbah Gelatin
Salah satu pertimbangan utama dari produksi semua jenis gelatin adalah jumlah limbah cair yang besar dihasilkan selama proses produksi yang dapat mengandung komponen mineral dan lemak (Hinterwaldner, 1977). Limbah tersebut dapat menghasilkan Biological Oxygen Demand (BOD) yang tinggi. Limbah cair dapat berupa asam atau basa tergantung dari proses perendamannya.

F. ASPEK FINANSIAL DAN EKONOMI
Beberapa hal yang dikaji dalam aspek finansial adalah sumber dana dan struktur pembiayaan, jumlah biaya investasi, harga dan prakiraan penerimaan, proyeksi laba rugi, proyeksi arus kas, analisa titik impas, Kriteria kelayakan investasi (NPV, IRR, Net B/C, PBP, ROI) dan analisa sensitivitas.
1. Asumsi
Dalam menentukan perkiraan biaya, beberapa asumsi sangat dibutuhkan. Asumsi-asumsi tersebut dijelaskan di bawah ini.
a. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun.
b. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek bernilai 50 % dari nilai awal sedangkan nilai tanah tetap pada masa akhir proyek.
c. Nilai sisa mesin dan peralatan sebesar 10 % dari nilai awal, biaya pemeliharaan sebesar 3 % dari nilai investasi tetap dan biaya asuransi sebesar 2 % setiap tahun dari total nilai mesin dan peralatan yang diasuransikan.
d. Nilai depresiasi dihitung dengan metode penjumlahan angka tahun (Sum-of-Years Digits Depreciation).
e. Kapasitas produksi gelatin sebesar 1.449 kg per hari dengan kebutuhan bahan baku kulit split sebanyak 4.478 kg per hari.
f. Suku bunga yang digunakan adalah 19 % per tahun dan Debt Equity Ratio (DER) sebesar 70:30.
g. Biaya investasi adalah biaya investasi tetap ditambah biaya modal kerja selama satu tahun dan dikeluarkan seluruhnya pada tahun ke-0.
h. Sebanyak 20 % produk gelatin pada tahun diproduksi tidak terjual.
i. Harga jual naik setiap dua tahun sekali sebesar 11,5 % dan biaya operasional naik setiap tahun sekali sebesar 5,75 %.
j. Pajak penghasilan berdasarkan Undang-Undang Pajak nomor 17 tahun 2000 sebesar :
- Jika pendapatan lebih kecil Rp.50.000.000,00, pajak sebesar 10 % x pendapatan
- Jika Rp.50.000.000,00 lebih kecil pendapatan lebih kecil Rp.100.000.000,00, pajak sebesar (10% x Rp.50.000.000,00) + (15% x (pendapatan-Rp.50.000.000,00))
- Jika pendapatan lebih besar Rp.100.000.000,00, maka pajak sebesar (10% x Rp.50.000.000,00) + (15% x Rp.50.000.000,00) + (30% x (pendapatan – Rp.100.000.000,00))
k. Kapasitas produksi pada tahun pertama sebesar 80 % dari total kapasitas, tahun kedua sebesar 90 % dari total kapasitas dan tahun ketiga sampai tahun kesepuluh, pabrik berproduksi penuh.

2. Sumber dana dan Struktur Pembiayaan
Sumber dana pembiayaan investasi perusahaan gelatin ini terdiri dari dua bagian yaitu dana pinjman bank dan dari modal sendiri. Jenis pinjaman yang diberikan oleh bank adalah kredit investasi yang diberikan untuk mendirikan usaha baru. Nilai suku bunga untuk kredit investasi tersebut adalah 19 % dengan porsi pendanaan atau Debt Equity Ratio (DER) adalah 70 % dari pihak bank dan 30 % dari pihak peminjam.
Jumlah kredit investasi yang diberikan oleh bank sebesar 70 % dari total biaya investasi adalah sebesar Rp. 35.066.984.403,00 sedangkan biaya investasi dari modal sendiri sebesar Rp.15.028.707.601,00. Total biaya investasi industri gelatin sebesar Rp.50.095.692.005,00.

Pembayaran pinjaman terdiri dari pembayaran angsuran dan pembayaran bunga pinjaman. Pembayaran angsuran maupun bunga pinjaman dimulai dari tahun pertama dengan jangka waktu pembayaran selama 10 tahun. Pembayaran angsuran dapat dilihat pada lampiran 6.

3. Biaya Investasi
Biaya investasi adalah penggunaan dana untuk menanam modal dalam proyek baru (Ichsan et al., 2003). Biaya investasi total terdiri dari biaya investasi tetap dan biaya modal kerja pada tahun pertama. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), biaya investasi tetap adalah biaya untuk aktiva tetap yang terdiri dari aktiva tetap berwujud (tanah, bangunan, mesin dll.) dan aktiva tetap tidak tidak berwujud (biaya pendahuluan, biaya sebelum operasi dll.). Komposisi investasi tetap dapat dilihat pada tabel 16. Rincian biaya investasi tetap, nilai sisa dan biaya depresiasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabel 16. Komposisi Biaya Investasi Tetap
No.KomponenNilai (Rp.)Persentase (%)1Lahan2.921.484.0007,172Bangunan7.790.625.00019,113Persiapan (perizinan, AMDAL, paten)242.498.0000,594Pekerjaan sipil dan struktur lain3.201.124.0007,855Mesin dan peralatan26.605.768.00065,27Total40.761.499.112100

Modal kerja dapat diartikan semua investasi yang diperlukan untuk aktiva lancar (Husnan dan Suwarsono, 2000). Modal kerja dalam perencanaan industri gelatin ini adalah biaya yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan selama tahun pertama. Biaya operasional tersebut terdiri dari biaya tenaga kerja, administrasi, pemasaran, depresiasi, asuransi, riset dan pengembangan, pemeliharaan, bahan mentah, kemasan dan bahan bakar. Komposisi modal kerja dapat dilihat pada tabel 17. Biaya tenaga kerja, biaya bahan baku dan bahan pembantu dan tabulasi biaya operasional selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8, 9 dan 10.

Tabel 17. Komposisi Modal Kerja Industri Gelatin
No.KomponenNilai (Rp.)Persentase (%) ABiaya Tetap 1Tenaga kerja tak langsung1.526.400.00016,352Administrasi 508.320.0005,453Pemasaran158.132.9661,694Depresiasi3.668.367.40039,305Asuransi619.496.8486,646Riset dan Pengembangan (R&D)158.132.9661,697Biaya pemeliharaan1.121.707.09312,02Subtotal7.760.557.27383,14BBiaya Variabel 1Bahan mentah213.708.0002,292Bahan kemasan52.892.4200,573Bahan baker291.835.2003,134Tenaga kerja langsung1.015.200.00010,88 Subtotal1.573.635.62016,86 Total9.334.192.893100

Persentase biaya investasi tetap dari total biaya investasi adalah sebesar 81,37 % yaitu sejumlah Rp.40.761.499.112,00. Persentase modal kerja dari total biaya investasi adalah sebesar 18,63 % yaitu sebesar Rp. 9.334.192.893,00.

4. Harga dan Prakiraan Penerimaan
Harga jual gelatin per kg, sebagaimana dijelaskan pada aspek pasar dan pemasaran, bervariasi antara Rp.40.824,00 sampai dengan Rp.229.897,44 dengan variasi proyeksi penjualan, bergantung kualitas gelatin. Makin berkualitas gelatin, harga menjadi semakin tinggi.

Gelatin bloom 125 menempati porsi terbesar dalam proyeksi penjualan yaitu sebesar 36 %. Makin tinggi kualitas gelatin, proyeksi penjualan makin rendah. Gelatin bloom 150, 200, 250 dan murni berturut-turut proyeksi penjualannya adalah sebesar 24 %, 20 %, 13 % dan 6 %. Dengan variasi kualitas gelatin dan proyeksi penjualan berdasarkan kualitas, proyeksi penerimaan menjadi tidak terlalu berbeda jauh. Proyeksi pendapatan gelatin dapat dilihat pada lampiran 11.

Pada tahun pertama, perusahaan memproduksi sebanyak 80 % dari kapasitas total. Pada tahun kedua, perusahaan memproduksi 90 % sedangkan pada tahun ketiga sampai tahun kesepuluh, perusahaan memproduksi 100 % dari kapasitas total. Setiap tahun, perusahaan diasumsikan hanya dapat menjual 80 % dari gelatin yang diproduksi pada tahun itu.

5. Proyeksi Laba Rugi
Proyeksi laba rugi berguna untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Proyeksi laba rugi dihitung dengan cara mengurangi penerimaan dengan pengeluaran (biaya tetap dan biaya variabel) kemudian dikurangi dengan pembayaran bunga sehingga dihasilkan laba sebelum pajak.

Laba sebelum pajak dikurangi dengan pajak yang dihitung dengan mengalikan ketentuan pajak sesuai Undang Undang Nomor 17 tahun 2000 dengan laba sebelum pajak tersebut. Perhitungan proyeksi laba rugi dapat dilihat pada lampiran 12.

6. Proyeksi Arus Kas
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), aliran kas dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu aliran kas permulaan (initial cash flow), aliran kas operasional (operational cash flow) dan aliran kas terminal (terminal cash flow). Aliran kas permulaan adalah aliran kas yang berhubungan dengan pengeluaran investasi. Aliran kas operasional dapat dihitung dengan mengurangi laba setelah pajak dan penyusutan dengan angsuran pinjaman. Aliran kas terminal terdiri dari nilai sisa investasi ditambah dengan pengembalian modal kerja.

Aliran kas dihitung dengan mengurangi aliran kas masuk dengan aliran kas keluar setiap tahunnya. Aliran kas masuk terdiri dari modal sendiri dan pinjaman (initial cash flow), laba bersih, depresiasi, nilai barang tidak terjual (operational cash flow), nilai sisa dan pengembalian modal kerja (terminal cash flow). Aliran kas keluar terdiri dari investasi tetap, modal kerja (initial cash flow) dan angsuran pinjaman (operational cash flow). Kas bersih didapatkan dengan mengurangi kas masuk dengan kas keluar setiap tahunnya. Proyeksi arus kas dapat dilihat pada lampiran 13.

7. Analisa Titik Impas
Titik impas (Break Event Point/BEP) dipakai untuk menentukan besarnya volume penjualan dimana perusahaan tersebut sudah dapat menutup semua biaya-biayanya tanpa mengalami kerugian maupun keuntungan. Analisa titik impas tergantung pada tiga faktor yaitu harga jual produk, biaya variabel dari biaya-biaya produksi, pemasaran dan administrasi dan biaya tetap dari biaya-biaya produksi, pemasaran dan administrasi (Shim et al., 1993).
Perhitungan titik impas perusahaan gelatin adalah sebagai berikut:
BEP = Biaya tetap
1- (Biaya variabel/Total penerimaan)
= Rp. 8.502.645.433,00 atau
= 90.390,48 kg gelatin

8. Kriteria Kelayakan Investasi
Beberapa kriteria kelayakan investasi yang dipakai adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of return (IRR), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Pay Back Period (PBP). Perhitungan kriteria kelayakan investasi dapat dilihat pada lampiran 14.
a. NPV
Metode NPV membandingkan nilai tunai dari arus kas masuk yang akan terjadi yang diharapkan dari suatu proyek investasi terhadap arus kas keluar yang berkaitan dengan investasi di awal proyek tersebut (Shim et al., 1993). Apabila nilai penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang investasi maka proyek tersebut menguntungkan sehingga dikatakan layak, begitu juga sebaliknya.
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai NPV adalah sebesar Rp.11.144.140.916,00. Karena nilai NPV lebih besar dari nol maka industri gelatin berbahan baku kulit split dinyatakan layak berdasarkan perhitungan NPV.
b. IRR
IRR adalah tingkat suku bunga dimana nilai tunai dari arus kas yang diharapkan dari suatu proyek investasi adalah sama dengan biaya dari investasi proyek tersebut. IRR ditentukan dengan menetapkan NPV sama dengan nol (Shim et al., 1993).
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai IRR adalah sebesar 32,75 % sedangkan tingkat suku bunga yang digunakan adalah 19 %. Karena IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang digunakan maka industri gelatin berbahan baku kulit split dinyatakan layak berdasarkan perhitungan IRR.
c. Net B/C
Net B/C dihitung dengan membandingkan jumlah semua NPV Bt-Ct yang bernilai positif dengan semua NPV Bt-Ct yang bernilai negatif. Jika B/C lebih besar sama dengan 1 maka proyek layak untuk dilaksanakan (Pramudya dan Nesia, 1992).
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Net B/C adalah sebesar 1,22. Karena nilai Net B/C lebih besar dari 1 maka industri gelatin berbahan baku kulit split dinyatakan layak berdasarkan perhitungan Net B/C.
d. PBP
PBP didefinisikan sebagai jumlah waktu yang diharapkan suatu perusahaan untuk dapat mengembalikan investasi awalnya (Shim et al., 1993). Berdasarkan hasil perhitungan, nilai PBP adalah sebesar 4,54 tahun. Karena nilai PBP lebih cepat daripada umur proyek maka industri gelatin berbahan baku kulit split dinyatakan layak berdasarkan perhitungan PBP.

9. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengulang kembali perhitungan yang telah dilakukan dengan perubahan yang terjadi atau mungkin akan terjadi (Pramudya dan Nesia, 1992). Penghitungan dilakukan untuk melihat pengaruh kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual terhadap kriteria investasi. Ringkasan analisis sensitivitas dapat dilihat pada tabel 18. Analisis sensitivitas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 15, 16, 17 18, 19 dan 20.

Tabel 18. Analisis Sensitivitas Terhadap Harga Bahan Baku, Harga Jual dan Biaya Investasi Tetap
PerubahanNPV (Rp.)IRR (%)Net B/CPBP (tahun)Harga bahan baku dan bahan
pembantu naik 493 %26.217.12219,0111.00055,35Harga bahan baku dan bahan
pembantu naik 495 %(30,362,643)18,9890.99945,35Harga jual turun 10,76 %8.495.39119,0041,00025,33Harga jual turun 10,78 %(12.202.835)18,9960,99985,33Biaya investasi naik 17,85 %6,683,769 19.0031,00015,32Biaya investasi naik 17,87 %(5,795,174)18.9980.99995,32

Berdasarkan perhitungan, titik kritis kelayakan industri gelatin berada pada kisaran kenaikan harga bahan baku dan bahan pembantu sebesar 493 % sampai 495 %, penurunan harga jual sebesar 10,76 % sampai 10,85 % dan kenaikan biaya investasi tetap sebesar 17,76 % sampai 17,87 %. Kenaikan harga bahan baku meliputi kenaikan bahan mentah, bahan kemasan dan bahan bakar. Kenaikan biaya investasi tetap meliputi lahan, bangunan, persiapan (perizinan, AMDAL, paten), pekerjaan sipil dan struktur lain dan mesin serta peralatan. Kenaikan biaya investasi tetap juga akan mengubah nilai sisa dan nilai depresiasi setiap tahunnya.

10. Analisis Ekonomi
Beberapa manfaat ekonomi dari pendirian industri gelatin berbahan baku kulit split adalah pemasukan dari pajak, retribusi dan biaya ijin kepada pemerintah dan penghematan devisa negara karena berkurangnya impor gelatin dari luar negeri. Selain itu pendirian industri gelatin bermanfaat dari sisi menyerap tenaga kerja, pemasukan kepada bank dengan pembayaran bunga dan pemanfaatan bahan baku kulit split.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Potensi pasar gelatin di Indonesia cukup besar yaitu sebesar 2.767.296 kg. Besarnya potensi pasar ini karena hampir seluruh kebutuhan gelatin di Indonesia dipenuhi oleh gelatin impor. Struktur pasar yang terjadi adalah persaingan murni dalam skala internasional tetapi perusahaan gelatin ini mempunyai keunggulan dari sisi geografis, harga, relasi dan status kehalalan produk dibandingkan perusahaan-perusahaan penghasil gelatin dari luar negeri.

Jika dilihat dari derajat persaingan pasar, perusahaan dapat berproduksi dengan acuan kapasitas sekitar 0,18 % dari konsumsi gelatin dunia atau sebesar 500.000 kg per tahun. Pada level ini, perusahaan hanya akan bersaing dengan dengan perusahaan-perusahaan gelatin internasional yang berada pada urutan bawah. Pangsa pasar gelatin dunia yang masih terbuka sekitar 6.735.000 kg per tahun. Berdasarkan pertimbangan pangsa pasar gelatin dunia, potensi pasar gelatin Indonesia, acuan kapasitas berdasar derajat persaingan pasar dan teknologi proses dan mesin yang dipilih, kapasitas produksi perusahaan ditetapkan sebesar 434.560 kg per tahun. Kapasitas ini hanya sebesar 15,70 % dari potensi pasar di Indonesia atau 6,45 % dari pangsa pasar gelatin dunia atau 86,91 % dari acuan kapasitas berdasar derajat persaingan pasar gelatin dunia.

Keunggulan gelatin yang akan diproduksi di Indonesia adalah kejelasan status kehalalan gelatin, keamanan gelatin dari infeksi BSE atau TSE dan bahan lain yang berbahaya. Selain itu, variasi kegunaan gelatin yang cukup luas dalam aplikasi industri membuat gelatin yang diproduksi dapat berasing dengan produk lain yang kegunaannya sama dengan gelatin. Harga gelatin dan persentase kapasitasnya ditetapkan bervariasi berdasarkan kualitas yaitu Rp.40.824,00 (36 %), Rp.45.684,00 (24 %), Rp.68.040,00 (20 %) dan Rp. 229.897,00 (6 %).

Lokasi perusahaan berbahan baku kulit split ini adalah di Kabupaten XYZ dan bertempat di dalam areal PT. XYZ Indonesia. Teknologi proses produksi yang dipilih adalah proses asam (gelatin tipe A). Mesin-mesin dan peralatan yang digunakan perpaduan antara teknologi gelatin Eropa dan mesin dan peralatan buatan dalam negeri.

Perusahaan gelatin ini membutuhkan 101 orang tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Berdasarkan aspek perijinan, perpajakan serta lingkungan pendirian industri gelatin berbahan baku kulit split layak dilaksanakan karena tidak ada masalah terhadap ketiga aspek tersebut.

Biaya investasi proyek didapat dari modal sendiri sebesar 30 % atau Rp.15.028.707.601,00. dan modal pinjaman dari bank sebesar 70 % atau Rp. 35.066.984.403,00. Total keseluruhan biaya investasi sebesar Rp.50.095.692.005,00, terdiri dari biaya investasi tetap sebesar 81,37 % atau Rp.40.761.499.112,00 dan biaya modal kerja sebesar 18,63 % atau sebesar Rp. 9.334.192.893,00.
Nilai kriteria kelayakan yaitu NPV sebesar Rp.11.144.140.916,00, IRR sebesar 32,75 %, Net B/C sebesar 1,22 dan PBP selama 4,54 tahun. Nilai-nilai tersebut menunjukkan industri gelatin berbahan baku kulit split layak secara finansial. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa industri gelatin berbahan baku kulit split lebih sensitif terhadap penurunan harga jual dibandingkan kenaikan harga bahan baku dan bahan pembantu. Industri ini masih layak pada kenaikan harga bahan baku sampai 493 %, penurunan harga jual sampai 10,76 % dan kenaikan biaya investasi sampai 17,85 %.

B. SARAN
1. Penelitian lebih lanjut mengenai segmentasi konsumen gelatin dari kalangan industri.
2. Analisa manajemen dan proyek yang lebih detail untuk memperkirakan jumlah waktu dan biaya yang diperlukan untuk membangun industri gelatin berbahan baku kulit split.


DAFTAR PUSTAKA

Antony, W. 2002. Aplikasi Gelatin Tipe A dari Kulit Sapi dalam Pembuatan Krim Tabir Surya (Sunscreen Cream). Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Apple, James M. 1990. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Terjemahan Edisi Ketiga. Penerbit ITB, Bandung.

Arthadana, I. 2001. Kajian Proses Produksi Gelatin Tipe A Berbahan Baku Kulit Sapi dengan Metode Perendaman Asam. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Biro Pusat Statistik. 2000. Jumlah Kulit Sapi Bahan Kerupuk. Biro Pusat Statistik, Jakarta.

Biro Pusat Statistik. 2003. Jumlah Impor dan Ekspor Gelatin di Indonesia. Biro Pusat Statistik, Jakarta.

Charley, H. 1982. Food Science, 2nd ed. Jhon Wiley and Sons, New York.

Cristianto, A. 2001. Kajian Proses Produksi Gelatin Tipe B Berbahan Baku Kulit Sapi Hasil Samping Industri Penyamakan Kulit. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Departemen Pekerjaan Umum. 1997. http:/www.pu.go.id.Kabupaten XYZ.htm.

Depperindag. 1999. Keputusan Menteri perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 589/MPP/Kep/10/1999.

Depperindag. 2004. Daftar Perusahaan Penyamakan Kulit di Indonesia. Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.

Depperindag. 2004. Petunjuk Mengurus Izin dan Rekomendasi Sektor Industri dan Perdagangan. Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.

Depperindag. 2004. Pohon Industri Gelatin. Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.

Engko, H. C. 2002. Aplikasi Minyak Adas dan Gelatin Tipe B dari Kulit Sapi pada Formulasi Sabun Mandi Cair. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Gitosudarmo, I. 1997. Manajemen Pemasaran. Edisi Pertama. BPFE, Yogyakarta.

Goossens, Patrick. 2002. Gelatine – Absolutely Safe and Healthy. Scientific reeport. Gelatin Manufacturing Europe (GME).

Gray, C., P. Simanjuntak, L. K. Sabur, P. F. L. Maspaitella dan R. O. G. Varley. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Haryati, T. 2002. Aplikasi Gelatin Tipe A Berbahan Baku Kulit Sapi pada Produk Susu Pembersih (Cleansing Milk). Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Himmelblau, David M. 1996. Basic Principles and Calculation in Chemical Engineering. 4th edition. Prentice-Hall, New Jersey.
Hinterwaldner, R. 1977. Technology of Gelatin Manufacture. Di dalam Ward, A. G. dan A. Courts (ed.). The Science and Technology of Gelatin.1977. Academic Press, New York.
Hinterwaldner, R. 1977. Raw Material. Di dalam Ward, A. G. dan A. Courts (ed.). The Science and Technology of Gelatin. 1977. Academic Press, New York.

Husnan, Suad dan Suwarsono Muhammad. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Unit Penerbit dan Pencetakan, Yogyakarta.

Ichsan M, Kusnadi dan M. Syaifi. 2003. Studi Kelayakan Proyek Bisnis. Universitas Brawijaya, Malang.

Imeson, A. 1992. Thickening and Gelling Agents. Academic Press, New York.

Indrialaksmi, Oktarina. 2000. Pembuatan dan Karakteristrik Sifat Gelatin dari Kulit dan Tulang Ikan Cucut. Skripsi. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta IPB, Bogor.

Inugraha. 2003. Aplikasi Gelatin Tipe A dari Kulit Sapi sebagai Bahan Pengental (Thickening Agent) dalam Formulasi Deodorant Roll-on. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.
Ismayanti. 2002. Aplikasi Gelatin Tipe B Sebagai Bahan Pengental (Thickening Agent) pada Sampo. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Johns, P, 1977. The Structure and Composition of Collagen Containing Tissue. Di dalam Ward, A. G. dan A. Courts (ed.). The Sicence and Technology of Gelatin. Academic Press, New York.

Jones, N. R. 1977. Uses of Gelatin in Edible Products. Di dalam Ward, A. G. dan A. Courts (ed.). The Sicence and Technology of Gelatin. Academic Press, New York.

Judoamidjojo, R. M. 1974. Dasar Teknologi dan Kimia Kulit. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Keenan, T.R. 1994. Gelatin. Di dalam J. Kroschwitz (ed.) Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology. Wiley, New York.

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi Milenium. Terjemahan. Prenhallindo, Jakarta.

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jilid 2. Edisi Milenium. Terjemahan. Prenhallindo, Jakarta.

Lehninger, A. L. 1993. Dasar-dasar Biokomia Jilid I. Terjemahan. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Machfud. 1999. Diktat Bahan Pengajaran Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Mardhiah, I. 2002. Aplikasi Gelatin Tipe A dari Kulit Sapi pada Produk Hand and Body Cream. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Mark, E. M. dan G. F. Stewart. 1957. Advances in Food Research vol. 7. Academic Press, New York.

Max S, Peters dan Klaus D. Timmerhaus. I991. Plant design and economics for chemical engineers. 4th ed. McGraw-Hill, New York.

Meyer, L. H. 1982. Food Chemistry. AVI Publishing Co. Inc., Westport, Connecticut.

Ningrum, V. P. 2002. Aplikasi Gelatin Tipe B Sebagai Bahan Pengental pada Produk Shower Gel. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

NOSB TAP Review (National Organic Standards Board Technical Advisory Panel Review). 2002. Gelatin Processing. Washington.

Pelu, H., S. Harwati, E. Chasanah. 1998. Ekstaksi Gelatin dari Kulit Ikan Tuna melalui Proses Asam. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. IV(2):66-74. BPTP, Jakarta.

Poppe, J. 1992. Gelatin. Di dalam A. Imason (ed.). Thickening and Gelling Agents for Food. Blackie Academic and Professional, London.

Pramudya, Bambang dan Nesia Dewi. 1992. Ekonomi Teknik. Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, Bogor.
Purnomo, E. 1985. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Akademi Teknologi Kulit. Departemen Perindustrian Republik Indonesia, Yogyakarta.

Risnandar, Yulianto. 2002. Penentuan Kondisi Pengeringan Terbaik Gelatin dari Kulit Sapi Menggunakan Alat Pengering Semprot. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Rubin. 2002. Markedsrapport Gelatin. Scientific reeport. HYPERLINK "http://www.rubin.no" www.rubin.no ., Trondheim, Norway.

Safira. 2003. Aplikasi Gelatin Tipe A Sebagai Bahan Pengental dalam Pembuatan Skin Lotion. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Septriansyah, Cristin. 2000. Kajian Proses Pembuatan Gelatin dari Hasil Ikutan Tulang Ayam dalam Kondisi Asam. Skripsi. Jurusan IPT, Fakultas Peternakan, IPB, Bogor.

Shim, Jae K., Joel G. Siegel dan Abraham J. Simon. 1993. Tool for Executives MBA. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Simatupang, R. Burton. 2003. Aspek Hukum dalam Bisnis. PT. Asdi Mahasatya, Jakarta.

Siringoringo, Happy. 2000. Kajian Lama Perendaman dan Konsentrasi Larutan Basa Terhadap Karakteristik Gelatin yang Dihasilkan dari Tulang Domba. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Standar Nasional Indonesia. 06.3735. 1995. Mutu dan Cara Uji Gelatin. Dewan Standardisasi Nasional, Jakarta.

Stanton, W. J. 1991. Prinsip Pemasaran. Terjemahan. Erlangga, Jakarta.

Stoner, James A. F. dan R. Edward Freeman. 1994. Manajemen. Terjemahan. Jilid 1, Edisi V. Intermedia, Jakarta.

Sumarni, Murti dan John Soeprihanto. 1993. Pengantar Bisnis (Dasar Dasar Ekonomi Perusahaan). Liberty, Yogyakarta.

Suratmo, F. Gunarwan.1998. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suryani, A., I. Sailah dan E. Hambali. 2000. Teknologi Emulsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, Bogor.

Sutojo, S. 2000. Studi Kelayakan Proyek (Konsep, Teknis dan Kasus). PT. Damar Mulia Perkasa, Jakarta.
Tourtelotte, P. 1980. Gelatin. Di dalam Mc. Graw Hill. Encyclopedia of Science ang Technology. Mc. Graw Hill Book Co., New York.

Ward, A. G. dan A. Courts. 1977. The Science and Technology of Gelatin. Academic Press, London.

Winardi. 1991. Harga dan Penetapan Harga dalam Bidang Pemasaran. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Ulrich, Gael D. A Guide to Chemical Engineering Process Design and Economics. John Wiley and Sons, New York.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita Agroindustri

Kemasan Cerdas dengan Sensor Kebusukan Fillet Ikan. Mahasiswa bernama lengkap Yogi Waldingga Hasnedi berhasil membuat kemasan cerdas pendeteksi kebusukan fillet ikan. Ia memulai penelitiannya karena melihat bahwa penilaian kesegaran ikan yang dilakukan masyarakat sampai saat ini masih menggunakan indra dengan faktor yang diamati berupa penampakan (diamati pada mata, kulit, dan insang), tekstur, bau, dan warna. Sejalan dengan kemajuan teknik kemasan, berbagai penilaian tingkat kesegaran ikan saat ini telah mengarah pada produk kemasan yang terintegrasi antara nilai kemasan tersebut dengan tingkat kesegaran ikan itu sendiri...Selengkapnya

Tips Trik Menulis Skripsi